Sundar Pichai, CEO Google, memimpin pengembangan model Gemini (Futurism)
JawaPos.com - Di tengah perlombaan global menguasai kecerdasan buatan generatif, Google mengungkap ancaman baru yang dinilai berpotensi menggerus fondasi bisnisnya sendiri. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu menyatakan model AI andalannya, Gemini, menjadi target upaya peniruan sistematis oleh pihak luar melalui teknik yang memanfaatkan akses resmi layanan mereka.
Dalam laporan terbaru Google Threat Intelligence Group (GTIG), perusahaan menyebut praktik tersebut sebagai bentuk "distilasi model", yakni teknik menyalin kemampuan model bahasa besar dengan memanfaatkan keluaran sistem melalui akses antarmuka pemrograman aplikasi (API). Google menegaskan pendekatan ini bukan sekadar pelanggaran ketentuan layanan, melainkan berpotensi masuk kategori pencurian kekayaan intelektual.
Dilansir dari Futurism, Selasa (17/2/2026), laporan Google menyatakan, "Untuk banyak teknologi kecerdasan buatan yang model bahasa besarnya ditawarkan sebagai layanan, pendekatan ini tidak lagi diperlukan; para pelaku dapat menggunakan akses API yang sah untuk mencoba 'mengkloning' kemampuan model AI tertentu."
Lebih lanjut, Google mengungkap satu studi kasus ketika sistem mereka mendeteksi penggunaan "lebih dari 100.000 perintah" yang mengindikasikan adanya "upaya untuk mereplikasi kemampuan penalaran Gemini dalam bahasa sasaran non-Inggris pada beragam jenis tugas." Temuan tersebut menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menyalin kapabilitas penalaran model tersebut di berbagai konteks dan bahasa.
Sementara itu, perusahaan menyatakan sistem keamanannya mampu merespons dengan cepat. Dalam laporan tersebut ditegaskan bahwa sistem Google "mengenali serangan ini secara langsung dan segera menekan risiko yang ditimbulkannya." Dengan demikian, upaya yang terdeteksi itu dapat dikendalikan lebih dini sebelum berkembang menjadi ancaman yang lebih luas terhadap model AI mereka.
Fenomena ini muncul pada fase krusial industri AI, ketika perusahaan teknologi global berlomba menemukan model monetisasi yang berkelanjutan, mulai dari langganan berbayar hingga integrasi iklan. Dengan biaya awal pengembangan model bahasa besar yang mencapai miliaran dolar AS, praktik distilasi model dinilai berpotensi memangkas hambatan masuk bagi pemain yang lebih kecil, sebagaimana terjadi pada kemunculan sejumlah model alternatif pada awal 2025.
Selain itu, laporan GTIG juga mengingatkan bahwa sejumlah pihak yang terafiliasi dengan pemerintah berbagai negara memanfaatkan AI untuk mendukung operasi siber. Google menyebut kelompok yang berafiliasi dengan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara menggunakan model AI guna meningkatkan efektivitas kampanye siber mereka. Konteks ini memperluas persoalan dari sekadar persaingan bisnis menjadi isu keamanan strategis lintas negara.
Analis keamanan siber Geoffrey Li dalam wawancara dengan media teknologi menyatakan, "Teknik distilasi model memungkinkan entitas dengan sumber daya lebih sedikit untuk mempelajari logika internal AI canggih tanpa investasi besar." Menurutnya, akses API dan permintaan berulang dapat dimanfaatkan untuk memetakan pola respons model secara sistematis.
Namun demikian, kritik terhadap Google juga mengemuka. Sejumlah pengamat menilai terdapat ironi ketika perusahaan yang pada tahap awal pengembangan AI memanfaatkan data publik dalam skala besar, tanpa selalu memperoleh izin eksplisit dari pemilik konten kini mempersoalkan praktik peniruan berbasis keluaran sistemnya. Mereka menyoroti bahwa isu persetujuan, hak cipta, dan kepemilikan data sejak awal memang belum sepenuhnya tertata dalam ekosistem pelatihan model bahasa besar.
Perdebatan ini memperlihatkan belum matangnya kerangka hukum global yang secara tegas mengatur batas antara pemanfaatan data untuk inovasi dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Di satu sisi, perusahaan teknologi menuntut perlindungan atas model yang mereka kembangkan dengan investasi besar; di sisi lain, praktik pengumpulan data besar-besaran di masa awal pengembangan AI juga terus menjadi sorotan etis dan hukum di berbagai yurisdiksi.
Dengan demikian, kasus ini bukan sekadar isu teknis, melainkan sinyal awal "perang model" AI global. Di tengah ambisi raksasa teknologi dunia menguasai masa depan kecerdasan buatan, pertarungan kini tidak hanya soal inovasi, tetapi juga tentang siapa yang berhak atas algoritma, data, dan nilai ekonomi yang dihasilkannya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022