Logo Google terlihat dalam pengumuman rencana peluncuran kembali kacamata pintar perusahaan, menjelang kehadiran perangkat wearable generasi baru yang dijadwalkan pada 2026.
JawaPos.com — Google bersiap kembali ke pasar kacamata pintar pada 2026, menghidupkan kembali kategori perangkat yang pernah dianggap sebagai kekeliruan strategis oleh salah satu pendirinya, Sergey Brin.
Kembalinya Google ke segmen wearable ini mencerminkan perubahan pendekatan perusahaan terhadap teknologi perangkat yang dikenakan, sekaligus menempatkannya kembali dalam persaingan global perangkat berbasis kecerdasan buatan yang semakin kompetitif.
Keputusan ini tidak berdiri sendiri. Pasar perangkat wearable berbasis AI tengah mengalami percepatan, dipicu oleh kemajuan teknologi kecerdasan buatan generatif dan meningkatnya minat konsumen terhadap perangkat yang menawarkan bantuan kontekstual tanpa bergantung pada layar ponsel.
Dalam lanskap ini, Meta muncul sebagai pemain dominan melalui kacamata pintarnya hasil kolaborasi dengan EssilorLuxottica, yang mencatat penerimaan pasar di luar ekspektasi awal.
Melansir CNBC pada Kamis (18/12/2025), Google pada awal Desember mengonfirmasi rencana peluncuran generasi pertama kacamata pintarnya pada 2026. Perangkat ini akan ditenagai oleh Gemini, model kecerdasan buatan milik Google, dan berjalan di atas Android XR, sistem operasi yang dirancang khusus untuk perangkat realitas tertambah dan wearable.
Kembalinya Google ke segmen ini juga tidak terlepas dari refleksi internal perusahaan atas kegagalan masa lalu. Sergey Brin secara terbuka mengakui bahwa Google Glass, yang diperkenalkan lebih dari satu dekade lalu, diluncurkan pada waktu yang belum tepat. “Dulu, kecerdasan buatan belum cukup maju untuk membuat kacamata ini benar-benar berguna tanpa mengganggu pengguna,” kata Brin pada Mei lalu seperti dikutip Times of India. “Di era AI sekarang, kemampuan itu sudah berkembang jauh.”
Secara teknis, Google berencana merilis dua varian kacamata. Varian pertama berfokus pada fungsi audio, memungkinkan pengguna berinteraksi dengan asisten Gemini melalui perintah suara. Varian kedua akan dilengkapi layar kecil di dalam lensa untuk menampilkan informasi kontekstual, seperti navigasi, terjemahan bahasa, dan notifikasi singkat, tanpa mengganggu pandangan utama pengguna.
Untuk mendukung pengembangan perangkat keras, Google menggandeng sejumlah mitra global, termasuk Samsung, Gentle Monster, dan Warby Parker. Dalam pengajuan resmi perusahaan, Warby Parker menyebutkan bahwa produk kolaborasinya dengan Google ditargetkan meluncur pada 2026. Google juga mengumumkan komitmen investasi senilai USD 150 juta, setara sekitar Rp 2,51 triliun dengan kurs Rp 16.690 per dolar AS, guna mempercepat desain dan produksi.
Pendekatan kolaboratif ini menunjukkan bahwa Google tidak sekadar mengulang eksperimen lama. Perusahaan kini menempatkan desain, rantai pasok, dan pengalaman pengguna sebagai fondasi utama—pelajaran yang, menurut Brin, belum sepenuhnya dikuasai Google saat pertama kali meluncurkan Google Glass.
Di sisi lain, persaingan di pasar kacamata pintar semakin intens. Meta telah lebih dulu memperkenalkan kacamata dengan layar internal yang menampilkan pesan, pratinjau foto, dan teks langsung.
Perusahaan lain seperti Snap dan Alibaba juga mulai mengembangkan produk serupa, menandakan bahwa perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan tidak lagi dipandang sebagai pasar terbatas bagi pengguna tertentu, melainkan mulai bergerak menuju adopsi yang lebih luas.
Bagi Google, peluncuran kacamata pintar generasi baru pada 2026 bukan sekadar menghadirkan perangkat wearable, melainkan upaya merebut kembali posisi strategis dalam ekosistem teknologi konsumen global. Analis menilai keberhasilan langkah ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan Google menghadirkan fungsi AI yang relevan dan benar-benar berguna dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan taruhan reputasi dan posisi pasar yang besar, kacamata pintar generasi baru ini menjadi simbol perubahan strategi Google: dari eksperimen yang terlalu dini menjadi pendekatan yang lebih matang, terukur, dan berorientasi jangka panjang dalam persaingan teknologi global.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
