
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria. (Istimewa).
JawaPos.com - Di tengah perubahan besar yang dipicu oleh kemajuan kecerdasan artifisial (AI), industri media dituntut untuk melakukan transformasi mendasar. Stasiun televisi kini tidak bisa lagi hanya berperan sebagai lembaga penyiaran, tetapi harus berevolusi menjadi perusahaan teknologi konten yang memadukan inovasi digital dengan jurnalisme berintegritas.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa keberlangsungan televisi di masa depan sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan AI.
Menurutnya, media harus berubah menjadi perusahaan teknologi konten agar tetap relevan di tengah perubahan ekosistem media global yang begitu cepat.
“Televisi harus melihat dirinya bukan hanya sebagai stasiun penyiaran, tapi sebagai perusahaan teknologi konten. Teknologi, terutama AI, harus masuk ke semua aspek, dari ruang redaksi sampai distribusi,” ujar Wamen Nezar di Jakarta, dikutip Selasa (4/11).
Ia menjelaskan bahwa dunia kini memasuki era media 3.0 yang dikendalikan oleh algoritma dan kecerdasan buatan. Penonton tidak lagi mencari tayangan secara manual, melainkan mendapatkan rekomendasi personal dari asisten AI. Pergeseran ini, kata Nezar, menjadi ancaman bagi pola penyiaran tradisional yang masih mengandalkan jadwal tetap.
“Kendali konten kini ada di tangan AI. Bukan lagi manusia yang menentukan. Ini mengubah cara orang menonton, dan mengguncang model distribusi media konvensional,” tegasnya.
Meski membawa tantangan besar, Nezar menilai AI juga membuka berbagai peluang baru bagi industri televisi, mulai dari peningkatan efisiensi produksi, perbaikan kualitas audio-visual, hingga analisis data penonton untuk mendukung keputusan redaksional.
“AI bisa membantu kerja redaksi, tapi jangan sepenuhnya diserahkan pada mesin. Tetap harus ada human in the loop, agar berita tidak kehilangan akurasi dan nilai etikanya,” ujar Nezar.
Ia juga mengingatkan bahaya serius dari penyalahgunaan AI, seperti munculnya deepfake, disinformasi, dan halusinasi data yang dapat menggerus kredibilitas media.
“Ada lembaga survei besar di Australia yang terpaksa membayar 440 ribu dolar karena sumber datanya ternyata buatan AI. Itulah bahayanya jika kita tidak melakukan verifikasi manusia,” ujarnya.
Nezar menegaskan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong media nasional untuk memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai jurnalisme.
“Teknologi bisa dipelajari, tapi jurnalisme harus tetap jadi nyawa kita. Media yang bertahan bukan yang paling cepat beradaptasi secara teknis, tapi yang tetap menyajikan informasi benar dan membela kepentingan publik,” pungkasnya.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Tragis! Gadis 13 Tahun di India Diperkosa 30 Pria Selama 5 Hari, Para Tersangka Diarak Warga
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
