Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 September 2025 | 05.06 WIB

Open Source Kian Strategis, Bisa Dimaksimalkan untuk Regulasi dan Kedaulatan Data di Indonesia

Diskusi terkait manfaat teknologi open source di Indonesia. (RianAlfianto/JawaPos.com) - Image

Diskusi terkait manfaat teknologi open source di Indonesia. (RianAlfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com-Teknologi open source semakin dipandang strategis dalam mendukung transformasi digital Indonesia. Terutama di tengah regulasi yang makin ketat serta tuntutan menjaga kedaulatan data. 

Isu ini mengemuka dalam Canonical Executive Partner Summit 2025 yang digelar di Jakarta, Senin (8/9). Acara mempertemukan pakar industri, akademisi, hingga regulator.

Diskusi menyoroti peran open source di sektor publik dan finansial yang sangat diatur, seperti perbankan, fintech, asuransi, dan BUMN. Transparansi kode serta fleksibilitasnya dianggap mampu menjawab tantangan keamanan dan kepatuhan regulasi.

“Pemerintah, BUMN, maupun perusahaan finansial harus memastikan sistem TI mereka aman, patuh regulasi, dan efisien. Open source bukan lagi sekadar alternatif, tapi strategi utama menghadapi tantangan regulasi dan kedaulatan data,” ujar Wong Sui Jan, Founder & Direktur Utama Sivali Cloud Technology.

Wong mencontohkan adopsi open source di Pegadaian, yang berhasil mengimplementasikan teknologi ini tanpa mengorbankan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan. 

“Mereka tetap menjaga governance, risk, and compliance sekaligus berinovasi. Ini sinyal kuat bahwa open source memenuhi standar tinggi industri finansial,” tambah Wong.

Di sektor publik, pemanfaatan open source juga semakin luas untuk mendukung Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Dengan sistem terbuka, pemerintah bisa mengurangi ketergantungan pada vendor asing, menekan biaya lisensi, sekaligus memperkuat kontrol atas data nasional.

Pakar telematika sekaligus Rektor Institut Teknologi Tangerang Selatan Onno W. Purbo menegaskan, open source membuka peluang besar bagi kemandirian teknologi. Dia mencontohkan proyek jaringan 5G berbasis open source di kampusnya yang hanya menelan biaya sekitar Rp 50 juta.

“Kalau pakai perangkat proprietary bisa ratusan juta. Dengan open source, biayanya jauh lebih murah. Jadi manfaatnya bukan hanya efisiensi, tapi juga kemandirian,” jelas Onno.

Optimisme serupa disampaikan Naeem Maver, Vice President Asia Pasifik Canonical Ubuntu, yang menyebut pasar open source di Indonesia tumbuh pesat. 

“Pertumbuhannya sekitar 25 persen per tahun dan diproyeksikan mencapai 30 persen dalam lima tahun ke depan. Open source akan menjadi fondasi utama transformasi digital, termasuk untuk pengembangan kecerdasan buatan,” kata Naeem Maver.

Diskusi dalam forum ini menegaskan bahwa masa depan transformasi digital Indonesia tidak bisa dilepaskan dari open source. Dengan efisiensi biaya, transparansi kode, dan potensi inovasi yang luas, sistem terbuka dinilai sebagai jalan menuju kemandirian digital nasional serta peningkatan kualitas layanan publik.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore