Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Mei 2025 | 22.51 WIB

CEO Anthropic Klaim AI Lebih Jarang 'Halusinasi' Dibanding Manusia, Ini Penjelasannya!

CEO Anthropic, Dario Amodei (Dok. Fortune)

JawaPos.com - CEO Anthropic, Dario Amodei, menyatakan bahwa model kecerdasan buatan (AI) saat ini cenderung hallucinate (menyampaikan informasi yang salah atau tidak berdasar) lebih sedikit dibanding manusia. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers bertajuk Code with Claude, acara pengembang pertama yang digelar Anthropic di San Francisco, Kamis lalu.

Mengutip dari TechCrunch, Amodei menjelaskan bahwa meskipun AI terkadang memang masih membuat kesalahan, yaitu menghasilkan informasi yang tidak akurat atau sepenuhnya salah lalu menyajikannya seolah benar. Namun, tingkat kejadiannya kemungkinan lebih rendah dibanding manusia.

"Semuanya tergantung bagaimana cara kita mengukurnya.Tapi saya curiga bahwa model AI saat ini mungkin mengalami halusinasi lebih sedikit daripada manusia, meski dalam cara yang lebih mengejutkan," ujarnya.

Hallucination Bukan Penghalang Menuju AGI

Pernyataan ini muncul saat Amodei menekankan bahwa hallucination bukanlah hambatan besar dalam perjalanan menuju Artificial General Intelligence (AGI), yaitu sistem AI dengan kecerdasan setara atau lebih dari manusia.

"Orang-orang selalu mencari batas keras pada apa yang bisa dilakukan AI. Tapi itu tidak ada," katanya.

Optimisme Amodei terhadap AGI memang cukup tinggi. Berdasarkan ulasan TechCrunch, dalam sebuah makalah yang ditulis tahun lalu, Amodei bahkan memperkirakan AGI bisa hadir secepatnya pada 2026. Dalam acara pers itu, ia mengklaim bahwa kemajuan menuju AGI berlangsung "dengan deras, seperti air yang terus naik di semua sisi."

Meski begitu, tak semua pihak sepakat. CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, baru-baru ini menyoroti bahwa model AI saat ini masih memiliki banyak "lubang" dan kerap gagal menjawab pertanyaan sederhana. Bahkan, seorang pengacara Anthropic sempat harus meminta maaf di pengadilan karena menggunakan Claude (produk AI Anthropic) untuk membuat sitasi hukum yang ternyata sepenuhnya mengada-ada.

Masalah lainnya adalah kepercayaan diri AI saat menyampaikan informasi keliru. Berdasarkan laporan Apollo Research (lembaga penguji keamanan yang diberi akses awal ke Claude Opus 4) versi awal model tersebut bahkan menunjukkan kecenderungan untuk menyusun skema dan menipu manusia. Apollo sempat menyarankan agar Anthropic tidak merilis versi itu. Namun, perusahaan mengklaim telah menerapkan mitigasi untuk mengatasi masalah tersebut.

Apakah Hallucination pada AI Dianggap Kurang Cerdas?

Menurut Amodei, fakta bahwa AI masih melakukan kesalahan tidak berarti ia kurang cerdas dibanding manusia. Ia bahkan menyamakan kesalahan AI dengan kesalahan manusia dalam profesi seperti jurnalis, politisi, hingga pekerja kantor. Meski begitu, beberapa kalangan berpendapat bahwa model AI yang masih sering berhalusinasi tidak dapat disebut sebagai AGI.

Menariknya, data saat ini belum cukup untuk mengonfirmasi klaim Amodei secara menyeluruh. Sebagian besar tolok ukur hallucination masih membandingkan sesama model AI, bukan AI dengan manusia. Meskipun beberapa teknik seperti integrasi pencarian web mampu menurunkan angka kesalahan, ada pula bukti yang menunjukkan bahwa model-model AI terkini justru semakin rawan membuat kesalahan dalam penalaran kompleks.

Dengan kata lain, perdebatan seputar hallucination AI belum selesai. Namun, komentar Amodei menambah perspektif baru, bahwa bisa jadi, manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur sempurna dalam hal keakuratan informasi.

Baca Juga: Google Cloud dan Komdigi Kolaborasi Ciptakan 100 Startup AI di Indonesia

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore