Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Mei 2026 | 04.48 WIB

RAMageddon Mengguncang Industri Teknologi Global, Era Laptop dan Ponsel Murah Terancam Berakhir

Ilustrasi laptop entry-level yang terancam menghilang dari pasar global akibat lonjakan harga cip memori di tengah ledakan industri kecerdasan buatan (AI) (The Guardian) - Image

Ilustrasi laptop entry-level yang terancam menghilang dari pasar global akibat lonjakan harga cip memori di tengah ledakan industri kecerdasan buatan (AI) (The Guardian)

JawaPos.com - Gelombang investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini memunculkan dampak baru bagi konsumen global. Setelah memicu ledakan pembangunan pusat data dan persaingan cip kelas tinggi, AI kini dituding menjadi penyebab melonjaknya harga laptop, ponsel pintar, hingga konsol gim dunia dalam fenomena yang dijuluki 'RAMageddon'.

Dilansir dari The Guardian, Jumat (8/5/2026), sejumlah produsen teknologi besar seperti Microsoft, Samsung, Dell, Apple, hingga Sony mulai menaikkan harga produk serta menghapus model berharga murah dari pasar. Kondisi tersebut dipicu kelangkaan cip memori global yang semakin parah akibat lonjakan kebutuhan AI dan ekspansi pusat data berskala raksasa. 

Dalam laporan itu disebutkan, server AI modern membutuhkan memori berkapasitas sangat besar sehingga menyerap pasokan global sekaligus kapasitas produksi industri semikonduktor selama beberapa tahun ke depan. Dampaknya tidak hanya memukul pasar komputer pribadi, tetapi juga rantai pasok kartu grafis, SSD, hingga prosesor kelas bawah.

Firma riset TrendForce memperkirakan harga laptop mainstream yang saat ini dibanderol sekitar 900 dolar AS atau setara Rp 15,6 juta—dengan kurs Rp 17.340 per dolar AS—dapat melonjak hingga 40 persen sepanjang 2026 akibat krisis cip memori dan kenaikan biaya komponen lainnya. Situasi ini mulai mengubah strategi bisnis para raksasa teknologi global.

Apple, misalnya, menaikkan harga awal MacBook Air sebesar 100 poundsterling atau sekitar Rp 2,35 juta, dengan kurs Rp 23.510 per poundsterling, sambil menggandakan kapasitas penyimpanan minimum perangkatnya. Microsoft juga menghentikan model Surface kelas bawah dan menaikkan harga awal produknya sebesar 170 hingga 200 poundsterling atau sekitar Rp 3,99 juta hingga Rp 4,7 juta. Selain itu, Dell, Lenovo, hingga Framework ikut melakukan penyesuaian harga serupa.

Sementara itu, Sony telah menaikkan harga PlayStation 5 sebesar 90 poundsterling atau sekitar Rp 2,1 juta pada April lalu dan dikabarkan mempertimbangkan penundaan konsol generasi penerusnya. Meta juga menambah harga headset Quest 3S sebesar 30 poundsterling atau sekitar Rp 705 ribu, sedangkan Samsung mulai menaikkan harga beberapa model ponsel premiumnya. 

Analis senior Gartner, Ranjit Atwal, memperingatkan bahwa tekanan biaya kini mulai menghancurkan segmen perangkat elektronik murah. "Kenaikan tajam ini menghilangkan kemampuan vendor untuk menyerap biaya produksi, sehingga laptop entry-level dengan margin rendah menjadi tidak lagi layak dijual. Pada akhirnya, kami memperkirakan segmen PC entry-level di bawah 500 dolar AS atau sekitar Rp 8,67 juta akan hilang pada 2028," ujarnya. 

Tekanan serupa juga terlihat di pasar ponsel pintar global. Firma International Data Corporation (IDC) memperkirakan pengiriman smartphone global dapat turun 12,9 persen pada 2026 akibat kenaikan harga memori. Peneliti senior IDC, Nabila Popal, mengatakan harga cip kemungkinan tidak akan kembali ke level lama meski pasokan mulai stabil pada 2027. "Ponsel di bawah 100 dolar AS berpotensi menjadi tidak ekonomis secara permanen," katanya. 

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bagaimana persaingan AI yang dipimpin perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Meta, Apple, hingga perusahaan cip seperti NVIDIA mulai menciptakan dampak ekonomi langsung terhadap konsumen sehari-hari. Ambisi membangun AI generatif berskala besar kini ikut menentukan harga perangkat elektronik rumah tangga di seluruh dunia.

Meski Samsung, SK Hynix, dan Micron tengah membangun kapasitas produksi baru, sebagian besar fasilitas tersebut diperkirakan baru beroperasi paling cepat pada 2027. Bahkan SK Hynix memperkirakan kekurangan memori global masih dapat berlangsung hingga 2030. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore