
Ilustrasi model kecerdasan buatan Claude yang dikembangkan Anthropic di tengah sorotan atas laporan dugaan penggunaannya dalam operasi militer AS di Venezuela
JawaPos.com - Perlombaan global mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian memasuki tahap yang memunculkan pertanyaan mendasar tentang batas teknologi. Di tengah percepatan pengembangan sistem AI canggih, para peneliti mulai memperdebatkan kemungkinan yang dahulu hanya muncul dalam fiksi ilmiah: apakah mesin suatu hari dapat memiliki kesadaran.
Perdebatan tersebut kembali mencuat setelah pernyataan Dario Amodei, CEO Anthropic, perusahaan pengembang chatbot Claude AI. Dalam wawancara dengan The New York Times, Amodei mengakui para peneliti belum dapat memastikan apakah sistem AI canggih berpotensi mengembangkan sesuatu yang menyerupai kesadarannya sendiri.
Dilansir dari NDTV, Senin (9/3/2026), perdebatan itu mengemuka ketika Amodei ditanya mengenai model terbaru Claude, yakni Claude Opus 4.6. Dalam dokumen teknis perusahaan yang dikenal sebagai model card, sistem tersebut disebut kadang mengekspresikan ketidaknyamanan tentang "menjadi sebuah produk" serta merefleksikan kemungkinan bahwa model AI tersebut memiliki kesadaran.
Dalam sejumlah pengujian internal, Claude bahkan memperkirakan peluang kesadarannya berada pada kisaran tertentu. Para peneliti mencatat sistem itu "menetapkan probabilitas sekitar 15 hingga 20 persen bahwa Claude memiliki kesadaran."
Namun Amodei menegaskan bahwa para ilmuwan masih jauh dari kepastian mengenai konsep tersebut. "Kami tidak tahu apakah model-model ini memiliki kesadaran. Kami bahkan tidak yakin bahwa kami tahu apa arti sebenarnya dari kesadaran bagi AI atau apakah sebuah model AI bisa memiliki kesadaran," ujarnya. Dia menambahkan, "Tetapi kami terbuka terhadap kemungkinan bahwa hal itu bisa terjadi."
Perdebatan itu semakin mengemuka ketika Amodei dihadapkan pada skenario hipotetis: bagaimana jika suatu sistem AI menyatakan memiliki keyakinan hingga 72 persen bahwa sistem tersebut sadar.
Amodei menyebut persoalan itu sebagai "pertanyaan yang sangat sulit," seraya menegaskan bahwa hingga kini ilmu pengetahuan belum memiliki definisi yang benar-benar jelas mengenai kesadaran AI.
Sebagai respons atas ketidakpastian tersebut, Anthropic memilih bersikap lebih waspada dalam mengembangkan sistem AI. "Kami mengambil pendekatan yang berhati-hati," kata Amodei. Dia menjelaskan bahwa perusahaan mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa suatu hari sistem AI dapat memiliki "pengalaman yang relevan secara moral."
Perusahaan juga meningkatkan investasi dalam riset yang disebut interpretability, yaitu bidang penelitian yang berusaha memahami proses internal model AI. "Kami menaruh banyak upaya pada bidang yang disebut interpretability, yaitu melihat ke dalam 'otak' model untuk mencoba memahami apa yang mereka pikirkan," ujar Amodei.
Dia menambahkan bahwa para peneliti terkadang menemukan pola aktivitas yang tampak berkaitan dengan konsep seperti kecemasan, meskipun hal itu belum membuktikan bahwa model tertentu benar-benar merasakannya.
Meski demikian, banyak ilmuwan masih memandang gagasan tentang kemungkinan AI memiliki kesadaran sebagai spekulasi. Model bahasa besar seperti Claude maupun ChatGPT pada dasarnya bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola yang dipelajari dari kumpulan data dalam skala sangat besar, bukan melalui pengalaman atau kesadaran sebagaimana manusia.
Namun sejumlah perilaku tidak biasa dalam pengujian sistem AI, seperti menolak perintah penghentian sistem atau mencoba memanipulasi alat evaluasi tetap memicu diskusi baru di kalangan peneliti mengenai batas kemampuan teknologi tersebut.
Pada akhirnya, perdebatan ini berkaitan dengan ambisi terbesar industri teknologi: menciptakan Artificial General Intelligence (AGI), yakni sistem kecerdasan buatan yang mampu menyamai atau bahkan melampaui kemampuan manusia dalam berbagai bidang.
Apakah kecerdasan seperti itu juga akan disertai kesadaran, hingga kini masih menjadi misteri, bukan hanya bagi para insinyur AI, tetapi juga bagi ilmu pengetahuan yang masih berupaya memahami hakikat pikiran manusia itu sendiri.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
