Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Mei 2025 | 23.54 WIB

Tanggapi Fenomena Curhat ke AI, Psikolog Unair Surabaya: Tidak Semua Masalah Mental Bisa Ditangani Mesin

Ilustrasi AI (Dok. iStockphoto) - Image

Ilustrasi AI (Dok. iStockphoto)

JawaPos.com - Guru Besar Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga (Unair), Prof Nurul Hartini menegaskan kehadiran AI tidak serta merta menggantikan peran psikolog sebagai tempat aman untuk bercerita.

Prof Nurul menyadari bahwa peran AI tidak dapat terhindarkan. AI kerap dimanfaatkan masyarakat untuk mencari istilah atau gejala dari suatu kesehatan mental. Di titik tersebut, AI dinilai masih bisa menjadi solusi yang tepat. 

"Pada dasarnya AI hanya sebuah mesin. Sangat mungkin kemudian jawaban (AI) itu tidak memahami benar situasi dan kondisi (kesehatan mental) yang dihadapi seseorang,” ujar Prof Nurul di Surabaya, Kamis (22/5).

Menurutnya, pemanfaatan AI dalam praktik psikologi harus dilakukan secara bijak agar teknologi ini bisa membantu psikolog meningkatkan layanan kepada individu yang membutuhkan dukungan mental.

“Profesional yang memang bidangnya kesehatan, baik itu kesehatan fisik, psikologis, sosial yang memang ada transfer knowledge, emosi, psikomotor, itu yang akan sangat sulit tergantikan oleh AI,” imbuhnya.

AI tidak memiliki sisi humanisme. Oleh karenanya, tahap intervensi dalam kesehatan mental tetap harus dilakukan oleh manusia, dalam hal ini psikolog. Ada beberapa tanda seseorang perlu mendapat intervensi psikolog.

Pertama, ketika individu mengalami distress yang ditandai pikiran buntu dan emosi labil. Kedua, saat ia merespons masalah dengan perilaku menyimpang alih-alih menyelesaikannya secara produktif.

"Misalnya seseorang menyakiti diri sendiri, melukai orang lain, hingga menjauhi norma masyarakat. Di tahap ini, seseorang harus menemui psikolog, alih-alih meminta bantuan AI," seru Prof Nurul.

Sebelumnya, hasil Survei Snapcart pada April 2025 menunjukkan, 58 persen responden Indonesia mempertimbangkan AI sebagai psikolog mereka. Sementara 6 persen bahkan sudah menggunakan AI sebagai teman curhat.

Survei Oliver Wyman Forum juga mencatat 32 persen responden global tertarik menjadikan AI sebagai terapis. India tertinggi dengan 51 persen, jauh melampaui Amerika Serikat dan Prancis yang hanya 24 persen.

Mereka memilih curhat ke AI karena biaya psikolog dirasa mahal. AI juga dinilai dapat menjaga privasi dan lebih netral. Fenomena ini menyoroti bagaimana teknologi mulai mengambil alih peran yang dulu sangat manusiawi. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore