Hal tersebut disampaikan pada pertemuan tahunan KGI ke-7 pada tahun 2024 yang berlokasi di PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk. Kamojang. Lapangan panas bumi PGE dipilih sebagai lokasi pertemuan tahunan KGI 2024 karena sektor panas bumi merupakan salah satu sektor energi yang memanfaatkan survei atau data gayaberat dalam eksplorasi dan pengembangan.
Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar BIG, Muhammad Arief Syafi’i mengatakan,
penggunaan data gayaberat dan model geoid mendorong pembuatan peta dasar yang lebih akurat. Selain itu, model geoid diperlukan untuk mendukung perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan mitigasi bencana.
"Dengan data yang lebih presisi, pemerintah dan sektor swasta dapat membuat keputusan yang lebih tepat terkait penggunaan lahan dan pengembangan wilayah," ujar Arief saat meresmikan pertemuan tahunan KGI 2024, Selasa (25/6) kemarin.
Arief menambahkan, data gayaberat dan model geoid juga membantu dalam kalibrasi dan validasi model digital elevasi (DEM), yang penting untuk pemodelan permukaan bumi yang akurat. Pembangunan geoid yang teliti sangat krusial untuk berbagai aplikasi. Model geoid digunakan untuk memastikan datum tinggi antar pulau di Indonesia, mendukung Kebijakan Satu Peta, dan membantu mitigasi terhadap ancaman kenaikan muka laut akibat pemanasan global.
"Dengan adanya KGI dapat diwujudkan sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan yang terkait dengan data gayaberat sehingga dapat berbagi pakai dan bertukar data agar dapat saling melengkapi," pesan Arief.
Oleh sebab itu, diperlukan adanya standar supaya data yang dihasilkan oleh instansi manapun dapat memenuhi kebutuhan instansi lain. Standar tersebut meliputi standar dalam pengumpulan (akuisisi), pengolahan, pengelolaan, dan penyerbarluasan (berbagi pakai) data gayaberat. Dengan implementasi berbagai pakai data diharapkan dapat meningkatkan efisiensi anggaran dan efektivitas di berbagai bidang.
Akademisi sekaligus praktisi di bidang data gaya berat dan sistem referensi vertikal dari University of the Philipines, Jak Sarmiento mengatakan, data gayaberat dan model geoid merupakan elemen penting dalam ilmu kebumian. Data ini, kata dia, memberikan informasi mengenai variasi gravitasi di permukaan bumi yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan.
"Model geoid, yang merupakan representasi matematis dari permukaan laut rata-rata (mean sea level) di seluruh dunia, berperan penting dalam berbagai lingkup pekerjaan," papar Jak.
Jak memaparkan bahwa model geoid dapat dimanfaatkan untuk unifikasi sistem tinggi sekaligus keperluan praktis seperti membantu dalam pengelolaan sumber daya air dengan menyediakan data yang akurat tentang ketinggian dan aliran air. Dengan informasi yang tepat, pengelola sumber daya air dapat membuat rencana yang lebih baik untuk distribusi air dan pengendalian banjir.
Selain itu, data ini juga membantu dalam pemantauan perubahan elevasi dan volume air di danau, sungai, dan waduk. Model geoid juga membantu dalam penentuan ketinggian permukaan air tanah yang penting dalam eksplorasi sumber daya air.
Di sektor pertambangan, panas bumi, minyak dan gas bumi, data gayaberat membantu mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan. Hal ini memungkinkan penentuan lokasi deposit mineral dan sumber daya energi dengan lebih efisien dan efektif. Selain itu, data gayaberat digunakan untuk mendeteksi anomali gravitasi yang mengindikasikan keberadaan struktur geologi dan potensi cadangan minyak dan gas.
Di bidang pekerjaan terkait perencanaan dan konstruksi infrastruktur, seperti jalan raya, jembatan, dan gedung pencakar langit, data gayaberat dan model geoid memastikan bahwa struktur dibangun di atas fondasi yang stabil. Ini mengurangi risiko kerusakan dan kegagalan struktur, serta mengoptimalkan penggunaan material konstruksi. Data gayaberat juga digunakan dalam survei geoteknik untuk mengidentifikasi kondisi tanah dan batuan dasar sebelum pembangunan.
Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika BIG, Gatot Haryo Pramono sekaligus Ketua KGI berharap bahwa penggunaan data gayaberat dan model geoid memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung arah pembangunan nasional yang berkelanjutan dan efisien.
"Dengan data yang akurat, pemerintah dapat merencanakan proyek infrastruktur dengan lebih baik, menghindari pemborosan anggaran akibat kesalahan perencanaan atau konstruksi yang tidak tepat. Misalnya, dalam pembangunan jalan tol atau jembatan, data ini memastikan bahwa struktur tersebut dibangun di atas fondasi yang benar, mengurangi risiko kerusakan dan biaya perbaikan di masa mendatang," tutur Gatot.