Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Juni 2024 | 15.50 WIB

Produk Asuransi Tradisional Dominasi Premi Baru

Ilustrasi asuransi jiwa. - Image

Ilustrasi asuransi jiwa.

JawaPos.com–Produk asuransi tradisional tumbuh lebih unggul dibanding unit link. Pergeseran komposisi tersebut turut dialami PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (MSIG Life). Dari porsi 33 persen di 2022 naik menjadi 54 persen sepanjang 2023.

”Di MSIG Life juga kita bisa melihat pergeseran komposisi produk yang cukup signifikan antara unit link dan tradisional. Terkait dengan hal ini kami mengantisipasi dan menyesuaikan dengan permintaan pasar untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ucap Direktur MSIG Life Andrew Bain di Sinarmas Land Plaza, Selasa (25/6).

MSIG Life meluncurkan 16 produk baru sepanjang tahun lalu. Sembilan di antaranya merupakan produk rider dengan tujuh produk utama.

”Dua merupakan unit link dan lima produk tradisional,” imbuh Andrew Bain.

Presiden Direktur MSIG Life Wianto Chen mengatakan, prospek industri asuransi jiwa masih cerah. Didukung permodalan yang kuat. Pendapatan premi bisnis baru yang disetahunkan alias annualized premium equivalent (APE) perseroan mencapai Rp 1,3 triliun. Tumbuh 15 persen secara year-on-year (YoY).

Di tengah ekspansi bisnis dan pembayaran klaim kesehatan yang meningkat, MSIG Life mampu mencatatkan laba setelah pajak Rp 126 miliar. Profitabilitas dari bisnis baru atau new business value (NBV) meningkat rata-rata 39 persen selama 3 tahun terakhir.

”Kondisi finansial perusahaan juga sangat sehat, tecermin dari risk based capital 2011,5 persen jauh di atas ketentuan minimum dari regulator (120 persen),” terang Wianto.

Dari hasil kinerja tersebut, kontribusi unit link secara gross sebesar 52 persen dari total premi. Sedangkan produk asuransi tradisional sebanyak 48 persen. Namun, untuk premi baru yang masuk, produk asuransi tradisional berkontribusi sekitar 85 persen. Sedangkan unit link hanya 15 persen.

Wianto menjelaskan, fenomena shifting produk asuransi tersebut bakal membuat solvency issue perusahaan asuransi. Yakni kemampuan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajiban. Termasuk membayarkan return dari hasil investasi instrumen asuransi kepada nasabah.

Sementara suku bunga bisa naik turun. Jika terjadi penurunan maka tentu bisa terjadi kerugian. Artinya terdapat risiko investasi.

”Kalau Anda menjamin suatu produk, akan ada bunga tertentu yang dijamin. Nah karena menjamin kan perlu modal. Kalau kami bisa menjamin, kalau perusahaan asuransi yang modal nggak besar? Bagaimana dia punya RBC akan kena,” terang Wianto Chen.

Nah yang menjadi masalah, nasabah berekspektasi membeli asuransi unit link akan selalu mendapat cuan. ”Jadi ada risiko kecukupan modal dan risiko investasi apabila suku bunga turun di bawah jaminan. Yang akan berbahaya bagi kesehatan keuangan perusahaan,” imbuh Wianto.

MSIG Life bakal menyasar nasabah kaya yang well literate untuk mendorong penjualan unit link. Seperti nasabah private bank yang sudah mengerti likuiditas dan investasi. Kemudian perlu adanya relaksasi secara teknis. Misalnya, ketika terjadi koreksi sampai minus 1 terhadap instrumen investasi maka uang nasabah tidak boleh berkurang.

Sehingga nasabah harus tambah dana yang berarti biaya premi harus naik. Jika premi unit link terlalu tinggi dibanding tradisional jadi tidak menarik.

”Padahal unit link tidak mungkin tidak ada return. Meski juga tidak bisa menjamin. Padahal, perusahaan asuransi menaruh dana di surat utang ada imbal hasilnya. Tapi kadang nasabah tidak mau tahu,” tandasnya.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore