
Ilustrasi sabu-sabu. Dok. JawaPos
Jawapos.com - Beragam cara ditempuh kepala daerah untuk menghilangkan kebosanan masyarakat selama pandemi Covid-19. Salah satunya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berencana membuka kembali bioskop di ibu kota. Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berencana menggelar konser Ari Lasso secara offline. Di sisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sedang menggodok ide untuk menyelenggarakan pagelaran seni.
Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Atik Choirul Hidajah mengatakan bahwa sebelum menggelar pagelaran atau acara, pihak terkait harus memastikan bahwa pandemi telah terkendali.
“Hal ini dapat dilihat dari indikator yang digunakan untuk menentukan risiko suatu daerah agar dapat beraktivitas aman dan produktif,” tuturnya ketika dihubungi JawaPos.com pada Sabtu (29/8).
Atik menambahkan pemerintah harus kembali melihat persebaran dan jumlah penderita Covid-19 di tempat-tempat tertentu. “Jika mengacu pada zonasi tersebut, Surabaya masih berada pada zona merah, sehingga aktivitas yang dapat dilakukan juga terbatas. Hanya pada sektor yang esensial saja,” ujarnya.
Dia tidak menampik mengenai anggapan bahwa rasa bahagia dapat meningkatkan imunitas dan bisa menghindarkan masyarakat dari virus. Namun, ada beberapa hal yang menurut Atik harus diperhatikan masyarakat.
“Tapi, aktivitas apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan rasa bahagia tadi juga tetap harus mempertimbangkan apakah akan menimbulkan kerumunan, apakah dilakukan di ruang tertutup dan lain sebagainya. Jadi hal-hal itu tetap harus dipertimbangkan,” lanjutnya.
Menurutnya, pemerintah boleh-boleh saja menggelar kegiatan yang dirasa mampu menciptakan rasa bahagia masyarakat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Selain itu, Atik yang juga menjadi dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat ini juga mengingatkan bahwa Surabaya masih zona merah. “Artinya, risiko penularan di masyarakat masih tinggi,” katanya.
Atik menyarankan pemerintah untuk kembali mempertimbangkan format pagelaran maupun acara yang akan dilakukan. “Lebih baik membuat format pagelaran yang tetap bisa dinikmati dengan physical distancing. Selain itu, pemerintah perlu memperhatikan kondisi dan kemungkinan masyarakat yang akan melepas masker untuk makan dan minum selama menyaksikan pagelaran,” tukasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=M5qjYuEwjWY
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
