
Ucapan belasungkawa berpulangnya Bram. DPC PDIP Sidoarjo
JawaPos.com–Selama ini, banyak orang mengenal wilayah kawasan religi Sunan Ampel Surabaya sebagai Kampung Arab. Namun, sebenarnya anggapan tersebut salah. Hal itu diungkapkan M. Khotib Ismail, ketua RW 2 Ampel sekaligus ketua Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata Ampel.
Menurut dia, sebelumnya, de stad atau Pemerintahan Belanda yang berkuasa, mengelompokkan masyarakat berdasar suku atau koloni berdasar etnik (wijkenstelsel). ”Dulu ada etnis Melayu, Jawa, dan Tiongkok. Masing-masing etnis dikelompokkan. Kampung Melayu ada sejak lama sebagai kediaman adipati. Di wilayah Ampel, sebenarnya Kampung Melayu,” papar Khotib Ismail.
Kampung Melayu diisi etnis yang datang dari wilayah Sumatera, seperti Palembang bahkan Malaysia. Menurut arsip sejarah, koloni berdasar etnis itu dibuat sejak abad 19.
”Di sana, ada Campung Malaeisch dan Campung Baroe yang berada di wilayah Kalimas,” tutur Khotib Ismail.
Dalam buku berjudul Kota di Djawa Tempo Doeloe, Maleishckamp pada medio abad ke-19 bergeser. Posisinya sedikit bergeser dan menyusut dengan berjalannya waktu. Bahkan sifatnya hampir hilang karena wilayah pecinan mendominasi.
”Salah kalau dibilang kampung. Yang benar adalah kawasan koloni etnis. Maksudnya itu kamp, bukan kampung. Di wilayah Ampel dulu bukan Kampung Arab,” ucap Khotib Ismail.
Arabische Kamp atau koloni etnis Arab, lanjut dia, sebenarnya berada di seberang Ampel. Seiring berkembangnya zaman, banyak masyarakat pendatang yang memadati wilayah tersebut.
”Arabische Kamp itu dibentuk Belanda. Jadi Arabische Kamp itu bukan Ampel. Pendatang dari Arab masuk sekitar 1868 ketika Terusan Suez dibuka. Setelah itu mereka berekspansi ke berbagai wilayah di Indonesia. Salah satunya Surabaya,” ujar Khotib Ismail.
Khotib menjelaskan, dulu, sepanjang jalan Nyamplungan diisi masyarakat etnis Tionghoa. Sementara etnis India berada di Jalan Panggung.
”Justru, kalau menyebut Kampung Arab, harusnya ada di Negeri Sembilan, Teluk Kumai, atau di wilayah SMA Al-Hikmah Gayungsari. Jadi, wilayah Ampel bukan Kampung Arab,” ujar Khotib Ismail.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=HErkwnb5Lds

Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Hasil Babak Pertama Persebaya vs Port FC: Miguel Pereira Cetak Gol Perdana, Skor Masih 1-1
Prediksi Persebaya Surabaya vs Port FC: Bruno Moreira Dikabarkan Cedera, Bernardo Tavares Buka Peluang Rotasi Pemain
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
