
Ilustrasi: Pajak (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya optimis sistem digitalisasi pajak daerah berpotensi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada 2026, potensi pajak diperkirakan mencapai Rp 109 miliar.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan saat ini, digitalisasi pajak daerah sudah diterapkan di sektor rumah makan dan hotel, di mana seluruh transaksi kini tercatat secara digital dan langsung masuk ke server.
“Saat ini pemungutan pajak (daerah) sudah terintegrasi secara digital. Dengan sistem ini, potensi penerimaan pajak bisa mencapai sekitar Rp109 miliar, dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar Rp 70 miliar,” tutur Eri, Jumat (9/1).
Digitalisasi pajak di Pemkot Surabaya tidak hanya mengandalkan tapping box, tetapi menggunakan sistem digital terintegrasi yang mencatat dan mengirim data transaksi secara real time ke server, tanpa pencatatan manual.
“Pemerintah hidup dari pajak. Karena itu, hubungan dengan pengusaha harus dibangun atas dasar kepercayaan dan kejujuran. Sistem digital ini bukan alat penindakan, tetapi bukti kejujuran,” imbuhnya.
Eri mengatakan dalam tiga bulan terakhir, penerimaan pajak di Surabaya meningkat hampir Rp 100 miliar.
Oleh karena itu pada 2026, digitalisasi akan diterapkan secara penuh dengan server dan aplikasi mandiri.
Selain pajak, digitalisasi juga diterapkan pada pengelolaan parkir. Eri Cahyadi menginstruksikan seluruh titik parkir diarahkan menggunakan sistem non-tunai, tanpa meniadakan opsi pembayaran tunai.
Melalui parkir digital, Pemkot Surabaya bisa memantau pendapatan riil juru parkir per bulan. Jika masih di bawah UMR, pemerintah menyalurkan program pemberdayaan keluarga guna meningkatkan kesejahteraan.
“PAD digunakan untuk mengurangi kemiskinan, menekan pengangguran, menurunkan stunting, meningkatkan IPM, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu, setiap rupiah PAD harus jelas manfaatnya,” seru Eri.
Dalam pengelolaan keuangan daerah, Wali Kota Eri menegaskan bahwa penyerapan anggaran bukanlah prestasi.
Sebab, ukuran keberhasilan bukan pada seberapa besar anggaran terserap, tetapi pada output dan outcome yang dihasilkan.
“Tujuannya adalah efisiensi, transparansi, dan menghilangkan ruang permainan. Dengan cara ini, harga bisa ditekan signifikan dan anggaran yang dihemat dapat dialihkan untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
