
Ilustrasi keluarga korban tragedi ambruknya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Pasca tragedi ambruknya bangunan empat lantai pada Senin (29/9) lalu, Pondok Pesantren Al Khoziny berniat memberikan santunan kepada keluarga korban meninggal dunia.
Namun, santunan tersebut ditolak oleh keluarga almarhum Muhammad Sholeh, 22 tahun, salah satu santri Ponpes Al Khoziny asal Bangka Belitung yang menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi mengerikan ini.
Muhammad Sholeh dievakuasi SAR gabungan pada hari kedua operasi, Selasa (30/10) Dalam kondisi kritis. Ia mendapatkan perawatan intensif di RSUD Notopuro Sidoarjo. Sayang, nyawanya tidak tertolong.
Kakak kandung korban, Abdul Fattah mewakili keluarga mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepedulian pihak pesantren, namun ia memilih untuk tidak menerima santunan tersebut.
“Kami tidak mau menerima santunan itu, bukan karena apa-apa, hanya ingin mendapatkan ridhonya kiai dan guru di pesantren. Semoga doa dan ridho beliau menjadi keberkahan bagi almarhum," tuturnya lirih, Kamis (9/10).
Fattah mengatakan pihak keluarga sudah ikhlas. Ia tak berharap banyak. Hanya berharap adiknya husnul khatimah dan keluarganya diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah yang menimpa Ponpes Al Khoziny.
Sementara itu, Dewan Pengasuh Pesantren Al-Khoziny, KHR Muhammad Ubaidillah Mujib, mengatakan santunan diberikan sebagai bentuk rasa duka cita mendalam sekaligus permohonan maaf kepada keluarga korban.
“Kami atas nama Pondok Pesantren Al Khoziny turut berbela sungkawa. Semoga almarhum Sholeh wafat dalam keadaan husnul khatimah, karena meninggal saat shalat dan dalam posisi sebagai penuntut ilmu,” ujarnya.
Santunan yang diberikan pihak Ponpes Al Khoziny kepada keluarga almarhum Muhammad Sholeh adalah sejumlah uang serta biaya kargo pemulangan jenazah. Santunan tersebut sempat diterima, namun dikembalikan lagi.
"Ini menjadi gambaran ketulusan hubungan santri dengan kiai serta pesantren," tukas ulama yang akrab disapa Kiai Mamad.
Kronologi Singkat
Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny, tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.
Insiden tragis ini terjadi saat para santri sedang melakukan Salat Asar berjamaah pada rakaat kedua. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan.
Setelah 9 hari berjibaku mengevakuasi korban yang tertimbun reruntuhan, kegiatan operasi SAR resmi ditutup pada Selasa (7/10) pukul 10.00 WIB.
Data terakhir, korban dalam bencana non alam ini mencapai 171 orang, dengan rincian 104 korban selamat dan 67 korban meninggal dunia, termasuk 8 body part. Dari puluhan korban meninggal dunia, 40 berhasil teridentifikasi.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
