JPU menuntut hukuman 2 tahun penjara untuk pasien yang pukul dokter bedah di RS BDH Surabaya. (Istimewa)
JawaPos.com-Sidang perkara penganiayaan yang dilakukan pasien Norliyanti terhadap dokter spesialis bedah umum di Rumah Sakit Bhakti Dharma Husada (BDH), Faradina Sulistiyani, terus bergulir.
Dalam perkembangan terbaru, terdakwa Norliyanti yang memukul dokter Faradina dituntut hukuman penjara dua tahun oleh jaksa penuntut umum (JPU), saat persidangan berlangsung di Pengadilan Negeri Surabaya.
Atas perbuatannya, Norliyanti, warga Babatan Wiyung, dijerat Pasal 353 ayat (1) KUHP. Jaksa menilai tindakannya terhadap dokter Faradina merupakan bentuk penganiayaan berencana yang menyebabkan luka cukup serius.
JPU Diah Ratri Hapsari mengatakan bahwa Norliyanti dinyatakan bersalah setelah memukul Faradina menggunakan bongkahan gragal di RSUD Bhakti Dharma Husada, Surabaya pada 25 April lalu.
”Perbuatan terdakwa mengakibatkan Faradina Sulistiyani mengalami luka robek di kepala belakang kanan kiri dan luka memar di panggung,” ucap Diah dalam persidangan baru-baru ini.
Luka yang diderita dokter Faradina membuatnya berhenti sementara dari pelayanan medis di RS BDH. Tindakan penganiayaan pasien Norliyanti terhadap dokter yang pernah mengoperasinya juga dinilai menimbulkan keresahan masyarakat.
Dalam sidang, jaksa juga membacakan hal yang meringankan. Norliyanti dinyatakan sopan selama persidangan, mengakui dan menyesali perbuatannya, serta tercatat belum pernah memiliki riwayat hukuman sebelumnya.
”(Atas berbagai pertimbangan) Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Norliyanti, dengan pidana penjara selama dua tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan,” imbuhnya.
Di sisi lain, kuasa hukum Norliyanti, Taufan Ainur Rahman, mengupayakan hukuman seringan mungkin bagi kliennya. Ia menegaskan dalam nota pembelaan, penganiayaan terhadap dokter Faradina terjadi spontan, bukan tindakan yang direncanakan.
”Itu spontan. Alat (gragal) itu untuk jaga-jaga. Perjalanan dari rumah terdakwa sampai rumah sakit memang daerah itu rawan begal. Spontan ambil batu buat jaga-jaga, sehingga bukan direncanakan sebagaimana tuntutan JPU," tukasnya.
Sebagai informasi, pengalaman tak mengenakan dialami oleh dokter spesialis bedah umum RS BDH Surabaya, Faradina Sulistiyani. Ia dianiaya pasiennya sendiri, Norliyanti pada akhir Juli 2025 lalu.
Mulanya, Norliyanti komplain kepada pihak rumah sakit. Ia mengaku masih merasakan nyeri di punggung pasca dioperasi oleh dokter bedah Faradina. Namun, ia merasa keluhannya tidak ditanggapi dengan baik.
Norliyanti masuk ke bagian Poli Bedah Umum. Di sana, ia melihat Faradina sedang duduk di depan komputer. Tanpa aba-aba, Norliyanti memukul kepala dan punggung dokternya dengan bongkahan gragal yang dibawa.
Faradina bersama pihak rumah sakit pun melaporkan Norliyanti ke polisi. Kini kasus tersebut sedang bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya dengan nomor perkara 1660/Pid.B/2025/PN Sby. (*)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
