
Dua dokter UB saat melakukan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina. (Humas Universitas Brawijaya)
JawaPos.com - Hampir tiga pekan berada di Gaza, Palestina, kehadiran dua dokter dari Universitas Brawijaya (UB), yakni Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat dan Ristiawan Muji Laksono, lebih dari sekedar misi kemanusiaan.
Meski singkat, deretan realitas pilu yang mereka saksikan di tanah Palestina: puing-puing rumah sakit, aroma obat-obatan yang nyaris kadaluarsa, jeritan anak-anak yang menahan lapar, masih terekam jelas dalam ingatan.
Selama di Gaza, kedua dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UB ini bertugas di Rumah Sakit An-Nasr dan Rumah Sakit Eropa. Dua fasilitas medis yang masih beroperasi di tengah krisis kemanusiaan.
Ristiawan menggambarkan kondisi rumah sakit di Gaza yang memprihatinkan. Ruang perawatan membludak hingga 250 persen, sementara bangunan fasilitas kesehatan banyak yang rusak dan hancur akibat serangan bom.
Tak jarang, pasien terpaksa dirawat di tenda-tenda darurat yang didirikan di sekitar rumah sakit. Dalam keterbatasan alat dan minimnya pasokan medis, mereka hanya menggunakan obat dan bius jenis lama yang tersedia.
“Obat kurang, air bersih terbatas, fasilitas rusak. Banyak prosedur harus dilakukan dengan alat seadanya, bahkan menggunakan obat-obatan lama yang sudah jarang dipakai, tentu ini menjadi tantangannya,” ucapnya, Kamis (7/8).
Dentuman bom dan kepulan asap sudah menjadi pemandangan lumrah di sana. Mirisnya, terjadi kelaparan ekstrem. Tak sedikit tenaga medis di rumah sakit yang pingsan karena tak makan lebih dari 2 hari.
“Seorang dokter spesialis sampai harus diinfus, anaknya menangis semalaman karena lapar. Bahkan pernah satu permen kopiko kami bagi ke dokter di sana. Mereka menerimanya dengan penuh syukur,” imbuhnya dengan nada lirih.
Salah satu momen yang membekas bagi dokter Ristiawan adalah saat melihat warga sipil dalam kondisi kurus dan lemah keluar dari lorong bangunan. Mereka lalu meminta makanan di pinggir jalan.
“Mereka lapar, tapi tidak kasar. Hungry but not angry," ucap dosen di Fakultas Kedokteran UB itu.
Pengalaman emosional juga dialami oleh Kuntadi. Selama hampir 40 tahun mengabdi sebagai dokter, ia mengaku baru pertama kali menyaksikan kondisi yang begitu memilukan di Gaza, Palestina.
Anak-anak kecil tergeletak di lantai dengan tubuh yang bersimbah darah. Napas mereka pun tersengal-sengal karena tak mendapat perawatan layak. Asupan gizi nyaris tidak ada, karena tubuh mereka kekurangan protein.
“Hingga semalam saya tiba-tiba menangis. Teringat kami cuma dua minggu. Tapi, mereka di sana bertahun-tahun, tenaga medis pun tetap bekerja walau situasi dan makan sulit,” ujar Kuntadi dengan lirih.
Meski terbiasa dengan situasi darurat, Kuntadi mengakui pengalamannya di Gaza sangat mengguncang. Dalam kondisi serba terbatas, sekecil apapun kepedulian, doa, atau tindakan, sangat berarti bagi mereka yang bertahan.
“Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Di Gaza, bahkan jika tidak bisa membantu secara medis, kehadiran pun bisa saja menjadi penghibur bagi mereka yang kehilangan," imbuhnya.
Kini, dua dokter UB telah kembali ke tanah air dalam keadaan selamat, bukan dengan tangan kosong, tetapi dengan cerita luka dan harapan. Mereka mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap kondisi Palestina. (*)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
