Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Juli 2025 | 18.39 WIB

2.200 Hektare Lahan di Gresik Berubah jadi Lautan akibat Abrasi, Ada Sertifikat Tanah tapi Tak Ada Wujudnya

ABRASI GRESIK. Di Kecamatan Ujungpangkah dan Mengare Kecamatan Bungah setidaknya ada sekitar 2.200 Ha lahan bersertifikat, tapi wujudnya tidak tampak. (Jawapos)

 

JawaPos.com - Tanah menjadi lautan sudah menjadi fenomena wajar di pesisir Gresik. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mencatat ada ribuan hektare (Ha) lahan saat rob menerjang berubah menjadi lautan. Tepatnya di dua kecamatan.

Di Kecamatan Ujungpangkah dan Mengare Kecamatan Bungah setidaknya ada sekitar 2.200 Ha lahan bersertifikat, tapi wujudnya tidak tampak. Batas antara pemilik satu dengan yang lain hanya berdasarkan insting. Sebab lokasi tanah-tanah itu sudah berada di atas laut.

Dulunya laut itu merupakan daratan yang dimiliki warga setempat. Menurut data KLHK, di area pesisir utara Gresik mengalami abrasi 132 kali pasang surut setiap tahunnya.

Pasang air laut juga berdampak terhadap tambak-tambak di utara. Dinas Perikanan Gresik mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat 590 Ha tambak di tiga kecamatan terendam, dimana Ujungpangkah dan Mengare paling terdampak.

Plt Kepala Dinas Perikanan Gresik Eko Anindito Putro mengatakan bahwa para petambak sebetulnya sudah mengantisipasi dengan memperkuat tanggul. Namun jika rob datang lebih besar tanggul manual kerap tak mampu menahan. "Di Pangkahwetan sendiri ada 300 Ha yang terendam. Padahal di sana sentra tambak bandeng," ujarnya.

Menurutnya banyaknya tambak yang jebol tahun ini tidak terlepas dari fenomena alam yang membuat rob tahun ini datang lebih besar. Eko merinci tambak yang terendam rob meliputi Desa Pangkahwetan 300 Ha, Desa Banyuurip 25 Ha.

Di Kecamatan Bungah ada Desa Waruagung 50 Ha, Desa Tanjungwidoro 100 Ha. Lalu di Kecamatan Sidayu ada Desa Randuboto 30 Ha, Mojoasem 25 Ha, Mriyunan 15 Ha, Sedagaran 20 Ha, dan Desa Seowo 25 Ha.

Sekretaris Daerah Gresik Achmad Washil mengaku, sejauh ini pihaknya belum mengetahui pasti detil rencana pagar laut pantai utara. Apakah dimulai dari sisi barat atau timur.

"Kalau wilayah laut kabupaten tidak memiliki kewenangan. Sejauh ini belum ada informasi lebih lanjut," ucapnya. 

Meski begitu Pemkab Gresik secara berkala telah melakukan penanganan dengan penanaman mangrove. Memanfaatkan banyaknya industri yang berdiri di Kota Pudak, mereka diajak untuk berkontribusi penanaman mangrove di pesisir utara. Sepanjang tahun 2025, setidaknya ada sekitar 70 ribu bibit mangrove ditanam di sana.

"Penanaman mangrove memang kami masifkan sejak beberapa tahun belakangan. Kami menggandeng perusahaan-perusahaan di Gresik," ujarnya.

Sudah ada sekitar 24 jenis mangrove ditanam di pesisir Gresik. Mulai di Kecamatan Ujungpangkah, Bungah, dan Manyar. Sementara itu, Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Gresik Ali Yusa menyebut bahwa rencana pagar laut memang cukup efektif. Namun rencana itu perlu dikaji lebih matang. Terutama terkait keberlangsungan ekosistem bawah laut serta mata pancaharian nelayan.

Menurutnya, pagar alami berupa mangrove lebih efektif untuk menahan laju abrasi. Sebab ekosistem bawah laut akan tetap hidup juga tidak berdampak negatif terhadap nelayan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore