JawaPos.com – Harga sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir di Surabaya. Menurut Sony Ahadian, Ketua Tim Kerja Pengendalian Distribusi Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Perdagangan, faktor utama penyebab kenaikan ini adalah terbatasnya pasokan akibat kondisi cuaca dan produksi yang berkurang di daerah penghasil.
“Pasokan sedang tidak lancar karena musim hujan. Hasil panen di beberapa daerah penghasil, seperti Probolinggo dan Nganjuk untuk bawang, serta Mojokerto dan Blitar untuk cabai, mengalami penurunan,” ujar Sony kepada JawaPos.com.
Namun, ia menegaskan tidak ada indikasi penimbunan bahan pangan di Surabaya. Kenaikan harga lebih disebabkan oleh gangguan pasokan di wilayah produksi. “Kalau penimbunan tidak ada. Ini murni karena pasokan yang kurang lancar akibat berkurangnya produksi,” tambahnya.
Ia juga memastikan bahwa stok bahan pokok di Surabaya masih mencukupi meskipun beberapa komoditas mengalami kenaikan harga. “Stok untuk sebulan ini masih aman. Tidak ada kekurangan, meskipun ada kenaikan harga untuk beberapa komoditas,” katanya.
Kenaikan harga bahan pangan tentu memengaruhi pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di sektor pangan. Namun menurut Sony, produksi UMKM masih berjalan seperti biasa. Beberapa pelaku usaha mungkin terpaksa menyesuaikan harga produknya, meski demikian kenaikan harga ini dinilai masih dalam batas wajar.
“Tahun ini kenaikannya tidak setinggi tahun lalu. Misalnya, cabai dan bawang, maksimal 40 ribu rupiah. Ini masih bisa ditoleransi karena acuan pemerintah untuk harga cabai sendiri adalah 50 ribu,” paparnya.
Harga komoditas lain seperti beras cenderung stabil, sementara telur dan jagung mengalami kenaikan. “Harga telur minggu lalu naik dari rata-rata 26 ribu menjadi 28 ribu hingga 30 ribu. Untuk jagung, kenaikan terjadi karena pasokan di daerah penghasil seperti Kediri dan Blitar berkurang,” tambahnya.
Untuk mengendalikan harga pangan, pihak Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan telah menggelar pasar murah di sejumlah perkampungan di berbagai kecamatan di Surabaya selama bulan Desember. Pasar murah ini bertujuan menyediakan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Melalui pasar murah, kita jual harga di bawah pasar. Misalnya, jika harga pasar 30 ribu, kita jual 28 ribu,” jelas Sony.
Selain pasar murah, Pemkot Surabaya juga memiliki program bantuan subsidi bagi masyarakat miskin. “Ada bantuan beras yang bekerja sama dengan Bulog, serta bantuan telur dan daging ayam dari Dinas Pertanian yang rutin disalurkan setiap bulan,” ungkap Sony.
Dengan kondisi stok bahan pokok yang masih mencukupi, ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying. “Belanja atau konsumsi secukupnya saja agar tidak terjadi kelangkaan,” tegasnya.
Kenaikan harga pangan di Surabaya diharapkan bersifat sementara, mengingat harga komoditas seperti cabai dan bawang cenderung fluktuatif. “Minggu ini naik, tetapi minggu depan bisa turun lagi,” tutup Sony.
Dengan langkah pengendalian yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya, masyarakat diharapkan tetap tenang dan memanfaatkan pasar murah serta program bantuan yang telah tersedia.