Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 September 2023 | 19.40 WIB

Updade SAH yang Buta Setelah Dicolok Tusuk Bakso: Pemkab Beri Pendampingan Psikologis, Polisi Periksa Saksi

Mata kanan SAH dipastikan buta permanen setelah dicolok tusuk bakso oleh kakak kelasnya. - Image

Mata kanan SAH dipastikan buta permanen setelah dicolok tusuk bakso oleh kakak kelasnya.

JawaPos.com – Pemkab Gresik berupaya membantu SAH, siswi SDN 236 yang mata sebelah kanannya buta karena dicolok tusukan bakso. Murid kelas II itu mendapatkan pendampingan psikologis dari Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Gresik.

Kepala Dinas KBP3A Gresik dr Titik Ernawati mengatakan, sejak mendapatkan laporan pada 4 September lalu, tim UPTD PPA dan Dinas KBP3A langsung menemui korban. Tim psikolog menggelar assessment untuk mengetahui pendampingan psikologis yang cocok bagi SAH.

”Pendampingan berjalan secara bertahap. Terutama psikologis atas dampak kejadian tersebut,” ucapnya.

Rencananya, hari ini (18/9) KBP3A kembali mendampingi SAH. ”Kami juga terus berkoordinasi dengan dinas pendidikan mengenai perkembangan korban. Karena psikologis ini perlu terapi, tidak bisa sekali waktu,” ujar Titik.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Gresik juga terus menelusuri kasus kekerasan terhadap SAH. Hingga kemarin (17/9) sudah ada lima saksi yang diperiksa. Pekan ini polisi menyiapkan pemanggilan saksi lainnya.

Rencananya, seminggu ke depan, PPA Satreskrim Polres Gresik memeriksa beberapa saksi kunci. Di antaranya, penjaga sekolah, teman sebangku SAH, termasuk dokter pertama yang memeriksa kondisi korban, serta guru yang bertanggung jawab dalam kegiatan Agustusan.

”Besok (hari ini, 18/9) kami akan memintai keterangan dari pihak dokter yang pertama memeriksa kondisi korban,” jelas Kanit PPA Polres Gresik Ipda Hepi Muslih.

Hepi mengatakan kasus tersebut dalam tahap pengumpulan bukti dan keterangan (pulbaket). ”Namun, kami telah menemukan gambaran awal hasil dari prarekonstruksi di lokasi kejadian,” jelasnya.

Pekan lalu polisi memeriksa Ummi Latifah, kepala SDN 236. Kepada petugas, Ummi mengaku tidak mengetahui secara langsung terkait peristiwa tersebut. Saat keluarga korban meminta izin untuk melihat rekaman CCTV, Ummi tidak mengiyakan.

Dia berdalih pihak sekolah tidak bisa memberikan rekaman gambar kepada orang yang tidak berwenang. ”Kasus terus berjalan. Kami sudah mengamankan data rekaman CCTV dari sekolah. Proses analisis juga melibatkan tim Laboratorium Forensik Polda Jatim,” tutur Hepi.

Sementara itu, psikolog Chandrania Fastari mengatakan, kasus perundungan yang dialami siswa masih banyak ditemukan. Fenomena itu ibarat gunung es. Yang muncul di permukaan hanya kejadian yang membahayakan.

Menurut dia, kasus yang dialami SAH seharusnya bisa dicegah sejak awal. Mengingat kejadian itu dilakukan secara berulang. Apalagi sejak kelas I, SAH jarang jajan.

”Ini seharusnya didalami oleh guru sebagai bentuk perhatian. Kenapa anak ini tidak jajan, apa tidak dikasih uang, atau uangnya ke mana. Sudah bagus bertanya kenapa tidak jajan, tapi tidak didalami,” jelasnya.

Psikolog UPTD PPA dan LK3 Nyai Ageng Pinatih Kabupaten Gresik itu menyebut, perundungan yang terjadi kepada SAH akan berdampak serius. SAH bakal lebih menutup diri, bahkan kesulitan menjalin relasi karena ketakutan.

”Ini kejadian secara berulang. Trauma sangat mungkin terjadi kepada SAH,” katanya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore