
Murtoyo, pemilik Angguna yang masih eksis di Surabaya hingga sekarang. (fajar mujianto/jawapos.com)
JawaPos.com – Tak banyak orang tahu bahwa Surabaya pernah memiliki angkutan umum legendaris. Angguna namanya, yang merupakan singkatan dari "angkutan serba guna".
Sesuai namanya, transportasi ini memang bisa digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang sekaligus.
Angguna merupakan kendaraan model wagon. Namun, memiliki bentuk yang unik, berbentuk mobil tapi pada bagian belakangnya terdapat bak terbuka yang menyerupai mobil pick-up.
Ciri khas lainnya adalah warnanya yang kuning menyala, dan di atasnya ada box lampu bertuliskan Angguna layaknya taksi.
Kendaraan ini memiliki dua kursi di bagian depan dan kursi panjang dibagian tengah untuk tiga hingga empat orang dewasa. Lalu, pada bagian belakang terdapat semacam bak terbuka layaknya mobil pick-up berukuran kecil.
Angguna sudah beroperasi sejak 1988 silam. Di masa jayanya, yakni 1992, angkutan ini jumlahnya mencapai ratusan unit. Di kala itu, Angguna memliki tarif sekali jalan yang lebih murah daripada taksi. Sayangnya, saat ini Angguna sudah sulit dijumpai.
Jika pun ada, tapi jumlahnya bisa dihitung. Salah satunya Murtoyo (82), sang pemilik Angguna, yang JawaPos.com temui di wilayah Surabaya Timur.
Murtoyo bercerita bagaimana eksisnya Angguna 1992 sebelum ramainya taksi. "Ndisik dereng enten taksi, ramene tahun 90, 92. Penumpange sing betoh barang. Ramaine ten pundi mawon, lewat cegat lewat cegat, mboten wonten terminal khusus, terminale tumut nak Joyoboyo. (Dulu belum ada taksi, ramainya tahun 90, 92. Penumpangnya yang bawa barang. Ramainya dimana saja, lewat cegat lewat cegat, nggak ada terminal khusus, terminalnya ikut Joyoboyo)," ujar Murtoyo.
Angguna. (fajar mujianto/jawapos.com)
Angguna berbeda dengan angkutan umum lain yang memiliki tarif sekali jalan dan memiliki trayeknya yang bebas. "Trayekke wonten, Gerbangkertosusila, sak jalur, bebas, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto. Tarife bebas, sak purune sampean, sampean ngenyang pinten, purun, masio ngenyang pinten kulo puron, kulo tarik, nyang-nyangan, mboten wonten tabelle. (Trayeknya ada, Gerbangkertosusila, satu jalur, bebas, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto. Tarifnya bebas, semaunya Anda. Anda tawar berapa, mau, biarpun tawar berapun saya mau, saya tarik, tawar menawar, nggak ada tabelnya)," tambah Murtoyo.
Murtoyo yang sejak 1958 di Surabaya pun memiliki cerita, di mana Angguna miliknya sering ditawar orang karena keunikan dan langkanya. "Angguna niki sering di enyang wong mas, pengen di gowo nak ndeso, antik jarene, lek nak dalan wong-wong yo mesti ngomong, sek onok Anggunane pak, sek awet ae. (Angguna ini sering ditawar orang mas, pengen dibawa ke desa, katanya antik, kalo di jalan ya orang-orang mesti ngomong, masih ada aja Anggunanya pak, masih awet saja)," ujar Murtoyo.
Murtoyo yang hanya memiliki pekerjaan sebagai supir Angguna dan setiap harinya ngetem di seberang salah satu pabrik di wilayah Kalirungkut pun berkeluh kesah bagaimana kini sepinya pengguna Angguna. "Angguna sak niki mulai jarang, mulai setahun rung tahun niki, mulai wonten online-online, mboten payu blas, motor apik-apik nggeh murah-murah. (Angguna sekarang mulai jarang, mulai setahun dua tahun ini, semenjak ada online-online, nggak laku sama sekali, motor bagus-bagus, murah-murah)," tutup Murtoyo.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
