Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Juli 2023 | 18.38 WIB

DPRD Surabaya Dorong Pemkot Surabaya Kerja Sama dengan Pemprov Jatim, Jamin Pendidikan Siswa Gakin

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti (dua dari kiri) mengunjungi rumah Khusnul Afwar. Anaknya setelah SMP tak bisa melanjutkan ke jenjang SMA karena kondisi ekonomi. - Image

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti (dua dari kiri) mengunjungi rumah Khusnul Afwar. Anaknya setelah SMP tak bisa melanjutkan ke jenjang SMA karena kondisi ekonomi.

Wujudkan Surabaya Zero Putus Sekolah

JawaPos.com–Rasa kemanusiaan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti terpantik ketika berkunjung ke rumah Khusnul Afwar, Senin (3/7). Anak Khusnul sudah putus sekolah akibat kondisi ekonomi.

Saat Reni datang ke rumah Khusnul Afwar, dia disambut haru Khusnul Afwa, istri, dan anaknya, Abi Arfiansyah. Abi Arfiansyah seharusnya kini sudah naik kelas XII SMA. Namun, biaya dan kondisi ekonomi memaksanya putus sekolah sejak dua tahun lalu.

Rumah Khusnul Afwar begitu sederhana. Tak ada perabot bagus di dalamnya. Afwar hanya pekerja serabutan. Istrinya membuka toko jajanan kecil-kecilan yang modalnya didapat dari hasil meminjam bank keliling.

’’Terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi, Bu. Anak saya tidak diterima di SMA negeri. Untuk ke swasta, kami tak mampu. Kebutuhan sehari-hari saja kami tak selalu bisa mencukupi,’’ ungkap Afwar.

Berbeda tempat namun kondisi yang sama. Reni juga sempat mendatangi warga Bulak Banteng pada 10 Juni. Di sana, ada keluarga yang keempat anaknya terpaksa putus sekolah karena kemiskinan ekstrem. Reni melihat kondisi rumah yang hanya 2 x 3 m, hanya satu petak untuk ruang tamu, tempat tidur, dan dapur.

Fenomena putus sekolah itu kerap ditemui Reni setiap tahun ajaran baru. Reni khawatir, di tempat lain masih ada anak-anak dengan nasib serupa. Sebab, daya tampung sekolah negeri tak cukup banyak. Misalnya, lulusan SD terdapat 40.000 siswa, sedangkan daya tampung SMP negeri hanya 20.000.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti.

’’Di kota yang sebesar dan semaju ini, masih saja ada anak putus sekolah. Sesuai amanah konstitusi UUD 1945, bahwa fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara,’’ ujar Reni.

Hal itu mendorongnya langsung datang ke rumah Khusnul Afwar. Sebagai lembaga legislatif, dia merasa terpanggil.

Pejabat Kelurahan Harus Proaktif Data Warga

Reny mengatakan, zero putus sekolah harus terwujud di Surabaya. Terlebih, Kota Surabaya memiliki visi besar. Yakni, gotong royong menuju Surabaya Kota Dunia yang Maju, Humanis, dan Berkelanjutan.

’’Dengan visi besar itu, jika masih ada anak putus sekolah, sangat ironis. Itu tentu tidak humanis,’’ ungkap Reni.

Soal pendidikan sudah tercantum dalam Perda No 16 Tahun 2012 tentang penyelenggaraan pendidikan di Surabaya yang wajib belajar 12 tahun. Lewat perda itu, Pemkot Surabaya memiliki kewajiban untuk memperhatikan pendidikan anak- anak. Meski tingkat SMA dan SMK dikelola Pemprov Jatim, pemkot masih punya tanggung jawab.

Reni mengakui, pemkot sudah menunjukkan atensinya pada anak tingkat SMA atau SMK. Mereka yang berasal dari keluarga miskin diberi bantuan beasiswa Pemuda Tangguh. Pemkot menyalurkan bantuan Rp 200 ribu per bulan serta seragam dan sepatu. Bantuan itu berasal dari APBD Kota Surabaya.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore