
Ilustrasi. Miss V yang tak lagi kencang bisa mengurangi kepercayaan diri perempuan.
JawaPos.com- Kasus vaginismus terus meningkat di Surabaya setiap tahun. Berdasar data di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kendangsari MERR, Surabaya, jumlah kasus vaginismus hingga akhir November ada sebanyak 60 pasien. Mereka tidak bisa berhubungan seksual alias making love (ML) dengan pasangannya.
Dokter Subspesialis Uriginekologi Fakulas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati SpOG (K) mengatakan, kasus vaginismus terus meningkat. Tahun ini di RSIA Kendangsari MERR Surabaya, tempat praktiknya, setiap hari rata-rata ada 1–2 kasus. ”Pasiennya bukan hanya dari Surabaya, banyak juga dari luar kota,” katanya kepada Jawa Pos kemarin (18/12).
Berdasar data di RSIA Kendangsari MERR, total kasus vaginismus pada 2021 mencapai 20-an pasien. Namun, tahun ini peningkatan kasus terlihat cukup signifikan. ”Data hingga akhir November sudah ada 60 kasus vaginismus yang saya tangani di tempat saya praktik,” ujarnya.
Eighty menjelaskan, vaginismus adalah spasme involunter pada otot-otot vagina yang menyebabkan terjadi hambatan penetrasi saat berhubungan seksual. Vaginismus sendiri memiliki beberapa derajat. Derajat pertama, paling ringan. Pasien masih bisa mengontrol otot-otot vagina dengan penjelasan pemeriksa. ”Pasien masih bisa rileks pada saat dilakukan pemeriksaan di daerah vagina,” kata dia.
Pada derajat kedua, pasien mulai ada gangguan relaksasi pada vagina. Pada derajat ketiga, pasien menghindar pada saat dilakukan pemeriksaan. Reaksinya sampai mengangkat pantat dan paha.
Pada derajat keempat dan kelima, pasien melakukan penolakan parah saat dilakukan penetrasi. Napasnya meningkat hingga berkeringat dan berdebar. Bahkan sampai histeris. ”Usia pasien vaginismus rata-rata 22–35 tahun. Lama pernikahannya antara dua bulan hingga delapan tahun,” jelasnya.
Eighty menuturkan, ada beberapa faktor penyebabnya. Mulai faktor biologis, psikologis, hingga lingkungan. Faktor biologis biasanya memang ada masalah dari awal anatomi. ”Atau terjadi spasme pada otot vagina,” ujar dia.
Ada pula karena faktor psikologis. Yakni, pengalaman masa lalu karena pernah mengalami pelecehan seksual atau melihat video porno yang tidak menyenangkan.
Selain itu, juga ada faktor lingkungan. Pasien berada di dalam lingkungan yang menganggap berhubungan seksual tabu atau tidak boleh dilakukan. ”Cara penatalaksanaannya, memang harus bisa melakukan wawancara secara detail untuk mencari faktor-faktor yang terjadi. Kemudian, dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.
Biasanya, kalau disebabkan faktor biologis, lanjut dia, harus dilakukan tindakan operasi. Misalnya, selaput dara tebal atau vagina kecil.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Garudayaksa vs Persik di Super League: Tuan Rumah Tak Ingin Malu di Kandang!
Prediksi Skor Sevilla vs Valencia di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Amankan 3 Poin!
Prediksi Susunan Pemain Garudayaksa FC vs Persik Kediri: Septian David Incar Kemenangan!
Prediksi Skor Union Berlin vs Schalke 04 di Liga Jerman: Kans Die Knappen Bikin Tuan Rumah Terpukul
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Rennes vs Marseille di Liga Prancis: Les Rennais Siap Pesta Gol di Roazhon Park!
Dituduh Netizen Mau Lepas Tanggung Jawab Terhadap Anak, Ini Jawaban Audi Marissa
Krisis Kesehatan Mental Anak: Lingkungan Kita Ikut Membentuknya

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022