Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 14.00 WIB

Krisis Kesehatan Mental Anak: Lingkungan Kita Ikut Membentuknya

Tulus Winarsunu, Guru Besar Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang - Image

Tulus Winarsunu, Guru Besar Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh: Tulus Winarsunu, Guru Besar Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

DATA terbaru Kementerian Kesehatan periode 2025–2026 menyodorkan kenyataan yang sulit kita abaikan. Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, dan 363 ribu lainnya mengarah pada depresi.

Angka ini memang bukan diagnosis klinis final. Namun, pesannya terlalu gamblang untuk diabaikan. Ada ratusan ribu anak di sekitar kita yang sedang tumbuh dalam kepungan beban psikologis yang sangat berat.
Ini adalah paradoks dalam kehidupan kita hari ini. 

Kita hidup di era paling terkoneksi dalam sejarah manusia. Telepon pintar menempel di jemari sepanjang hari, grup percakapan berdering tanpa henti, dan algoritma media sosial membuat kita tahu apa yang dilakukan tetangga sebelum kita sempat menyapa. Namun, di tengah masyarakat yang super-terkoneksi ini, manusia justru semakin merasa sendirian.

Ketika Kita Terlalu Sibuk Memperbaiki Individu
Selama bertahun-tahun, pembicaraan mengenai kesehatan mental banyak berpusat pada individu. Mengapa seseorang mengalami depresi? Mengapa seseorang mudah cemas? Mengapa seorang anak tidak percaya diri? Mengapa seseorang tidak mampu menghadapi tekanan? 

Pertanyaan seperti itu penting. Psikologi kemudian mengembangkan banyak konsep yang sangat berguna: coping, resiliensi, regulasi emosi, optimisme, harga diri, dan kebermaknaan hidup. Psikolog dan psikiater juga mempunyai peran yang tidak tergantikan. Ketika seseorang mengalami gangguan psikologis, bantuan profesional dapat sangat menentukan.

Tetapi ada persoalan jika seluruh masalah kesehatan mental akhirnya diletakkan pada individu. Bayangkan seseorang hidup dalam keluarga yang penuh kekerasan. Sekolah yang sarat perundungan. Tempat kerja yang eksploitatif. Lingkungan yang tidak aman. Komunitas yang diskriminatif. Masa depan ekonomi yang tidak pasti. Lalu kepadanya kita mengatakan: Anda harus lebih resilien. Ada sesuatu yang keliru di sini. Kita meminta manusia terus-menerus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mungkin justru sedang membuatnya sakit.

Karena itu, pertanyaan tentang kesehatan mental perlu diperluas. Bukan hanya: “Bagaimana membuat individu lebih kuat?” Tetapi juga “Bagaimana membuat lingkungan tidak terus-menerus melukai manusia?” Di sinilah kesehatan mental harus mulai dilihat sebagai persoalan ekosistem.

Kesehatan Mental Lahir dari Ekosistem
Manusia tidak pernah hidup dalam ruang kosong. Kita lahir dalam keluarga. Tumbuh dalam kebudayaan. Bersekolah. Bekerja. Bertetangga. Bergabung dalam komunitas. Memeluk agama. Berinteraksi dengan teknologi. Hidup di bawah sistem ekonomi dan kebijakan negara. Semua lingkungan itu ikut masuk ke dalam kehidupan psikologis kita. 

Karena itu kesehatan mental bukan semata-mata sesuatu yang tersimpan di dalam kepala seseorang. Ia muncul dari perjumpaan antara manusia dan dunia sosialnya. Secara konseptual ini dikenal sebagai community mental health ecosystem, yang memandang kesehatan mental muncul dari interaksi dinamis antara sumber daya psikologis, relasional, budaya, spiritual, komunitas, institusional, dan struktural.

Artinya, keluarga, sekolah, tempat kerja, kampung, budaya, bahkan kebijakan publik dapat menjadi sumber kesehatan mental. Sebaliknya, semuanya juga dapat menjadi sumber penderitaan psikologis. Pertanyaannya kemudian bukan hanya apakah masyarakat mempunyai cukup psikolog dan psikiater. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah kita mempunyai masyarakat yang memungkinkan manusia hidup secara sehat secara psikologis?

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore