
Penari Remo. Istimewa
JawaPos.com–Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana menjadikan Tari Remo sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler wajib di tingkat SD dan SMP, baik negeri maupun swasta. Hal itu dilakukan untuk mengusung semangat para siswa dalam menjaga kearifan budaya lokal.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, banyak siswa di Kota Pahlawan yang belum mengetahui arti dan makna Tari Remo. Melalui kegiatan ekstrakurikuler wajib tersebut, Budaya Arek di Kota Surabaya dapat terus dipertahankan.
”Kita akan berdiskusi lagi, mungkin setiap sekolah akan ada ekstrakurikuler wajib untuk Remo. Filosofinya untuk menjaga kearifan lokal, Tari Remo juga ada arti dan maknanya. Coba tanya itu anak-anak tahu maknanya Tari Remo? Tidak tahu semua. Maka itu ekstrakurikuler wajib, jadi Budaya Arek Surabaya bisa terus dipertahankan,” kata Eri Cahyadi.
Dia menginginkan masyarakat di Kota Pahlawan menjaga budaya lokal, salah satunya dengan melestarikan Tari Remo serta menunjukkan budaya khas Kota Pahlawan. Hal itu agar tidak diakui oleh orang lain. Apalagi, Pemkot Surabaya baru saja memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) Tari Remo Masal oleh 65 ribu lebih masyarakat, pelajar, dan anggota sanggar tari.
”Saya ingin menunjukkan, bukan rekornya tapi Surabaya adalah kota Remo. Sehingga mereka (penari) bisa tampil menunjukkan budaya Surabaya. Jangan sampai diakui orang lain, Surabaya harus care (peduli) dengan itu,” ujar Eri.
Kegiatan itu digelar pada 18 Desember mulai pukul 07.00 WIB di Jembatan Suroboyo dan tempat-tempat bersejarah lain di Kota Surabaya. Di antaranya, Tugu Pahlawan, Jalan Tunjungan, Jembatan Sawunggaling, Halaman Balai Kota, Alun-Alun Surabaya, Taman Bungkul, Taman Apsari, Taman 10 Nopember, dan halaman SD-SMP se-Kota Surabaya.
Eri menjelaskan, peran sekolah dalam memperkenalkan dan menjaga Budaya Arek di Kota Surabaya, dinilai mampu memastikan Tari Remo adalah salah satu budaya kebanggaan Arek-Arek Suroboyo. Dia berpesan agar masyarakat Kota Surabaya tidak lupa dengan sejarah. Yakni, harus memperkuat budaya lokal.
”Itu harus tertanam di hatinya mereka, pesan moralnya bahwa Surabaya jangan lupa sejarahnya. Kita boleh mengenal budaya barat, tapi elingo (ingatlah) kita punya Tari Remo yang harus kita besarkan, karena kalau kita sudah bisa membesarkan budaya kita sendiri, cinta dengan budaya kita sendiri, maka kita punya karakter kuat. Jadi masio (meskipun) budaya asing masuk, kita masih punya kekuatan di budaya lokal kita,” ucap Eri.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
