Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Juni 2022 | 01.31 WIB

Klaim Soekarno Arek Suroboyo Masih Berlanjut

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Istimewa - Image

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Istimewa

JawaPos.com–Klaim bahwa Presiden Indonesia pertama, Soekarno, merupakan warga asli Surabaya masih berlanjut. Pemkot Surabaya berupaya membuktikan bahwa Presiden Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya.

Menurut Sejarawan Bonnie Triyana, terdapat bukti dan keterangan yang menyatakan bahwa Putra Sang Fajar itu bukan lahir di Kota Blitar pada 1902. Tapi lahir di Kota Surabaya pada tahun 1901. Dia mengatakan, seorang arsitek dan pemerhati sejarah Bambang Eryudhawan memberikan bukti otentik bahwa Kota Surabaya merupakan tempat kelahiran Sang Proklamator.

”Dia menunjukkan buku induk Technische Hogeschool (TH, cikal bakal ITB Bandung). Di sana tertera data diri Soekarno saat sedang berkuliah di sana. Dia menunjukkan buku induk mahasiswa TH yang dibuat sejak tempat itu berdiri pada 1920 hingga Jepang belum menduduki Indonesia. Soekarno menempati nomor urut 55 dan masuk ke TH Bandung pada 1921, yang artinya satu tahun setelah TH berdiri,” kata Bonnie Triyana, Kamis (9/6).

Dalam buku induk tersebut, lanjut Bonnie Triyana, tertera nama Raden Soekarno lahir pada 6 Juni 1902, bukan 1901 sebagaimana sejarah yang diketahui khalayak umum. Hal seperti itu lumrah dilakukan, mengingat kebiasaan zaman dulu, jika anak mau masuk sekolah usianya sengaja dibuat muda atau tua.

”Mungkin sengaja dibuat muda, serta kemungkinan besar data itu menggunakan data saat Soekarno bersekolah di HBS (Hoogere Burgerschool), yakni sekolah bumi putera yang didirikan pada zaman penjajahan Belanda,” ujar Bonnie Triyana.

Tak hanya itu, pada buku induk mahasiswa Soekarno juga tertera nama ayahnya, Raden Sosrodihardjo yang berprofesi sebagai seorang guru (onderwijzer) di Blitar dan tertera nama ibunya, Ida Nyomanaka. Soekarno tercatat sebagai mahasiswa teknik sipil jurusan pengairan (waterbouwkunde).

”Penulisan nama ibu Soekarno ada sedikit perbedaan, sebagaimana yang kita ketahui adalah Ayu Nyoman Rai. Tetapi di buku induk tersebut tertulis Ida Nyomanaka,” terang Bonnie Triyana.

Buku tersebut tidak hanya mencatat data diri, melainkan semua nama mahasiswa yang lulus maupun yang tidak lulus dari TH. Bahkan, pekerjaan mereka juga tercatat dalam buku induk tersebut.

”Jadi tidak hanya Soekarno, tapi seluruh mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di sana tercatat lengkap oleh universitas teknik pertama di Indonesia itu,” terang Bonnie Triyana.

Buku induk mahasiswa tersebut juga mencatat nilai Soekarno semasa kuliah di TH. Meski sempat cuti selama hampir satu tahun pada 1921, dia kembali melanjutkan pendidikan pada tahun ajaran 1922/1923.

”Nilai yang diperoleh tahun itu adalah 5,85. Kemudian 1923/1924 adalah 6,75. Tahun ajaran 1925/1925 adalah 6,28, dan pada 1925/1926 adalah 6,55,” ungkap Bonnie Triyana.

Selain itu, dalam sebuah buku yang ditulis Cindy Adams mengisahkan otobiografi Soekarno. Buku itu berjudul Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, tertulis kisah tentang ayah dan asal usul tempat kelahirannya.

”Soekarno berkisah, karena merasa tidak disenangi di Bali, bapak kemudian mengajukan permohonan kepada departemen pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak dipindahkan ke Surabaya dan di sanalah aku dilahirkan. Demikian kata Soekarno yang memperjelas tempat kelahirannya,” terang Bonnie Triyana.

Dari catatan historis tersebut, pemkot berencana menjadikan rumah kelahiran lelaki yang akrab disapa Bung Karno itu menjadi sebuah museum edukasi.

Hal itu dikatakan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Eri menyatakan, Bung Karno dan Surabaya serta Surabaya dan Bung Karno tak dapat dipisahkan.

Menurut dia, Surabaya bukan hanya tempat lahir Bung Karno. Lebih dari itu, Surabaya ada dalam persenyawaan ideologi hidup Bung Karno. Tak heran jika Bung Karno menyebut Surabaya sebagai dapur nasionalisme.

”Selain tempat kelahiran, Surabaya menjadi takdir Bung Karno setelah ayahnya, Raden Soekemi, mengirimkan sang anak untuk bersekolah di Surabaya dan indekos di rumah Ketua Sarekat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto, di kawasan Peneleh. Di tempat itulah Bung Karno ditempa menjadi aktivis dan pemikir, yang semuanya itu menjadi awal mula perjuangannya dalam memerdekakan republik ini,” papar Eri pada Senin (6/6).

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore