
SEMANGAT BELAJAR: Sejumlah anak putus sekolah belajar agama dan matematika di Yayasan Griya Sahabat Yatim di Jalan Tanah Merah, Kamis (10/3). (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
JawaPos.com - Anak putus sekolah masih menjadi fenomena di Surabaya. Di lingkungan RW 4, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, misalnya. Sebanyak enam anak tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Impitan ekonomi serta kurangnya perhatian dari orang tua menjadi salah satu penyebabnya.
Contohnya, yang dialami Trilaksono. Warga Jalan Tanah Merah Indah Gang 4 itu sudah dua tahun ini putus sekolah. Terakhir, dia duduk di kelas VII MTs swasta. Bekerja sebagai tukang bangunan, orang tua tidak sanggup menutupi biaya sekolah.
Ditambah lagi, bocah berusia 15 tahun itu kerap di-bully oleh teman sekelasnya. Penyebabnya, dia kerap berdiam diri. Dia lebih suka bermain game online dibandingkan harus membaur atau bermain dengan teman sekelasnya.
”Malu enggak bisa bayar sekolah, jadi sering bolos dan akhirnya sekolah enggak bisa berlanjut,’’ kata Trilaksono di Yayasan Sohibul Yatim Surabaya (YSYS) di Jalan Tanah Merah I, Kamis (10/3).
Sudah dua tahun Trilaksono tidak bersekolah. Dia mengisi waktu dengan bekerja serabutan. Di antaranya, menjadi tukang bangunan dan jasa pengantar barang. Uang hasil bekerja digunakan untuk makan sehari-hari. Sebab, dia jarang sekali meminta uang kepada orang tua.
Sekretaris RW 4 Kelurahan Tanah Kali Kedinding Fadeli mengatakan, enam anak terpaksa putus sekolah. Impitan ekonomi menjadi faktor utama. Tidak mau pasrah pada keadaan, pihaknya berinisiatif menggalang dana secara swadaya. Caranya, menyisihkan sebagian uangnya untuk disumbangkan. Namun, banyaknya biaya yang dibutuhkan membuat pihaknya belum bisa menyekolahkan kembali mereka.
Dari enam orang, baru satu anak yang berhasil kembali disekolahkan. ”Baru satu yang kembali bersekolah. Yaitu, Nabila. Setelah lulus SD, dia tidak bisa melanjutkan ke SMP. Dan setelah menunggu setahun, hari ini (kemarin) Nabila sudah kembali sekolah,’’ ucap dia.
Sambil menunggu dana terkumpul, pembinaan diberikan. Mulai mengaji, pelatihan komputer, hingga beberapa pembelajaran formal yang terdapat di sekolah.
Fadeli berharap pemkot bisa bertindak cepat untuk menangani persoalan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Sebab, jika hanya mengandalkan dana swadaya masyarakat, dinilai tidak akan cukup menutupi biaya sekolah mereka.
Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur Isa Ansori mengatakan, pada masa pandemi Covid-19, puluhan anak Surabaya putus sekolah. Jumlahnya mencapai 23 orang pada 2021. Kebanyakan tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMP. Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat banyak orang tua tidak sanggup menutupi biaya sekolah.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya Anna Fajriatin menyatakan segera melakukan pengecekan terhadap yang bersangkutan. Dengan demikian, pihaknya bisa mengetahui penyebab mereka putus sekolah.
Apakah mereka tergolong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau ada penyebab lain mereka putus sekolah di luar faktor ekonomi.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
