Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 September 2020 | 18.48 WIB

Rekening Kemasukan Uang Panas, Modal Investasi Reksa Dana pun Amblas

ILUSTRASI: BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI: BUDIONO/JAWA POS

Keuntungan reksa dana saham Andri Wongso yang rutin mengalir ke rekeningnya mendadak berhenti. Modal pun tak dapat ditarik. Ternyata ada duit panas yang mengalir ke rekening investasi.

---

Andri Wongso terlihat sangat gusar. Raut wajahnya tegang. Senyuman yang tersungging tampak dipaksakan. Dia kepikiran modal Rp 7,5 miliar yang diinvestasikan dalam bentuk reksa dana saham, tiba-tiba hilang. Keuntungan Rp 356 juta yang seharusnya sudah diterima, malah melayang.

Pria 32 tahun itu bukan orang baru di dunia perbankan dan investasi. Pengalamannya bekerja di tiga bank berbeda membuatnya sangat mengenal investasi yang bernama reksa dana saham. Hal itu pula yang membuat dia mengundurkan diri sebagai karyawan bank dan memilih bermain saham reksa dana.

Modalnya menghimpun dana dari orang yang pernah dikenalnya. Ada 12 orang yang tertarik dengan skema investasi yang dipresentasikan. Setoran bervariatif. Dari Rp 200 juta sampai Rp 1 miliar. Total yang terkumpul Rp 7,5 miliar. ”Rata-rata untuk tabungan hari tua,” kata Andri saat ditemui di sebuah resto di Grand City Mall Surabaya.

Uang itu kemudian ditanam melalui sebuah perusahaan manajer investasi. Perusahaan itu menawarkan saham perusahaan-perusahaan yang sudah punya nama besar.

Dia memperhitungkan banyak hal sebelum memilih perusahaan manajer investasi. Selain profil perusahaan, fund fact sheet dia lihat untuk memastikan saham yang akan dibeli bukan saham gorengan atau saham yang kualitasnya jelek.

”Di fund fact sheet, saya lihat ada nama-nama perusahaan ternama yang selama ini sangat eksis. Nama-nama perusahaan itu sudah tidak diragukan lagi. Apalagi, perusahaan itu dijalankan atas lisensi OJK. Reksa dana ini saya lihat grade-nya bagus banget. Bukan saham gorengan,” tuturnya.

Pada 2013, dia investasi Rp 7,5 miliar untuk membeli reksa dana saham melalui perusahaan manajer investasi tersebut. Dari modal itu, dia mendapat keuntungan Rp 178 juta setiap tiga bulan sekali.

Hingga pertengahan 2019, investasinya aman-aman saja. Masalah mulai ada ketika pencairan profit pada November 2019. Keuntungan yang rutin diterima, sudah tidak ada lagi. ”Modal ditarik pun tidak bisa,” ujarnya sedih.

Masalah itu muncul ketika Kejaksaan Agung mengusut dugaan korupsi Jiwasraya. Dari penyidikan terungkap bahwa ada duit hasil korupsi yang diduga dialirkan ke perusahaan manajer investasi tersebut. Korps Adhyaksa itu kemudian memblokir rekening perusahaan tersebut. Padahal, di dalam rekening itu, ada uang nasabah reksa dana. Rekening itu pula yang selama ini dipakai untuk membagikan profit ke investor. Profit pun tidak bisa dicairkan. Termasuk modal.

”Gara-gara kasus itu, NAB (nilai aktiva bersih, Red) semua turun. (Harga) saham mulai rontok,” ucapnya. Dia berusaha bertahan dengan memperpanjang masa investasi agar NAB tidak anjlok. Namun, itu tetap tidak bisa menolong. ”NAB terus turun sampai 50 persen. Ditambah dengan adanya pandemi, semakin tidak bisa bayar,” tuturnya.

Saham-saham reksa dana miliknya yang kualitasnya bagus tiba-tiba berubah menjadi saham gorengan. ”Manajemen bilang sudah tidak ada duitnya,” ungkapnya.

Dia sempat menyarankan agar semua saham perusahaan itu dijual saja. Hasilnya digunakan untuk pencairan nasabah yang sudah jatuh tempo. Namun, itu tidak bisa dilakukan karena semua saham sudah diblokir.


Menurut Andri, modal Rp 7,5 miliar tidak bisa kembali. Termasuk bunga yang harus diterimanya selama enam bulan. ”Kerugian saya dari modal Rp 7,5 miliar dan bunga per tiga bulan,” katanya. Apesnya, modal itu merupakan titipan dari 12 nasabah. Sampai sekarang, dia belum tahu cara menjelaskan masalah itu ke investor.

Di sisi lain, perusahaan itu juga dimohonkan pailit di pengadilan niaga. Putusannya, perusahaan diberikan kesempatan untuk membayar piutang dalam tempo tujuh tahun. Para nasabah ragu perusahaan itu bisa melunasinya. ”Sebenarnya korban seperti saya di Surabaya banyak. Semuanya memilih menunggu,” ujarnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=1luGErNAVHE

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore