Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Mei 2023 | 20.15 WIB

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Ajak Tuntaskan Persoalan, Baru Ngomong Legacy

SALAM UNTUK WARGA: Wali Kota Eri Cahyadi dan Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani mengenakan busana batik buatan UMKM Surabaya di Alun-Alun Surabaya (29/5). - Image

SALAM UNTUK WARGA: Wali Kota Eri Cahyadi dan Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani mengenakan busana batik buatan UMKM Surabaya di Alun-Alun Surabaya (29/5).

JawaPos.com - Wartawan Jawa Pos Galih Adi Prasetyo berkesempatan mewawancarai Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Eri menyampaikan perkembangan Surabaya dan peran warga dalam pembangunan. Berikut petikan wawancaranya.

Hari ini Surabaya genap berusia 730 tahun. Apa saja perubahan yang ada di Kota Pahlawan?

Ada banyak tempat wisata di Surabaya. Ada Romokalisari Adventure Land, ada Tunjungan Romansa, ada pula Taman Asreboyo, dan masih banyak tempat lainnya yang kami jadikan tempat wisata.

Berikutnya, ada banyak tempat padat karya yang luar biasa. Seperti Viaduk Gubeng yang digerakkan anak-anak muda dari keluarga miskin. Sekarang omzetnya mencapai Rp 100 juta. Ada sentra wisata kuliner (SWK) seperti di Dharmahusada yang sudah meningkat pendapatannya.

Salah satu masalah di Surabaya adalah sanitasi. Tapi alhamdulillah, tahun lalu masalah itu sudah tuntas. Namun, yang saya inginkan ketika menjabat wali kota adalah sesuatu yang saya bangun bisa menggerakkan perekonomian. Kehadiran Pemkot Surabaya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Apakah ada perubahan juga dari cara pandang, perilaku, dan sikap warga Surabaya?

Yang sangat berubah hari ini adalah Surabaya sangat guyub rukun. Mulai RT, RW, LPMK, KSH, hingga seluruh warganya guyub. Ini yang membuat saya bangga menjadi bagian dari Kota Surabaya.

Siapa yang punya andil besar dalam perubahan ini?

Semua warga Surabaya berperan. Karena yang selalu saya katakan, sejatinya pemimpin Surabaya itu adalah warga, RT, RW, LPMK, dan seluruh stakeholder. Saya sebagai wali kota hanya menyatukan saja. Mengembalikan perasaan seluruh warga kota.

Harus diingat bahwa 10 November adalah hari di mana warga Surabaya berhasil menewaskan Jenderal Mallaby karena guyub rukunnya. Karena punya visi yang sama. Karena punya tujuan yang sama. Maka, Surabaya hari ini harus tetap berada di rel yang sekarang. Memiliki visi dan tujuan yang sama. Berbeda dalam pilihan itu biasa, tetapi tujuannya adalah satu.

Menurut Pak Wali, apa yang perlu dibenahi setahun ke depan?

Evaluasi saya adalah bagaimana kinerja Pemkot Surabaya lebih bisa bersinergi dengan masyarakat. Sinergi itu bisa dilakukan dalam penurunan stunting. Prevalensi stunting bisa turun menjadi 4,8 persen karena sinergi semua pihak. Sekarang ini kami masih membutuhkan sinergi yang kuat untuk menurunkan angka kemiskinan. Angka pengangguran terbuka.

Juga menurunkan Gini ratio. Serta mengurangi angka kematian ibu dan anak. Warga kota ini akan sejahtera dan bahagia ketika semua angka itu bisa di bawah 2. Sekarang rata-rata masih di atas angka 2. Oleh karena itu, kami harus bersama-sama terus bergerak bersama. Karena apalah arti bangunan monumental kalau masalah-masalah itu tidak bisa turun.

Mengapa tidak memilih pembangunan monumental untuk menyejahterakan warga?

Hari ini warga Surabaya sudah berubah lho. Tidak berpikir lagi bangunan monumental. Mereka sempat merasakan bagaimana guyubnya KSH. Bagaimana gerakan RT/RW yang akhirnya angka putus sekolah berkurang. Masalah lain juga berkurang ini kan luar biasa. Jadi, mereka tidak lagi menanyakan apa yang dibangun.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore