Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Oktober 2025 | 17.29 WIB

Kasus Ambruknya Musala Pondok Al Khoziny Jadi Pelajaran, tapi Bukan Alasan Turunkan Kepercayaan ke Pesantren

Petugas mencoba mencari korban di bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Senin (29/9). (Angger Bondan/Jawa Pos) - Image

Petugas mencoba mencari korban di bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Senin (29/9). (Angger Bondan/Jawa Pos)

JawaPos.com-Kementerian Agama (Kemenag) sebut musibah ambruknya musala Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo harus jadi pelajaran penting. Aspek keamanan dan kelayakan bangunan pesantren perlu dapat perhatian serius. Tetapi kejadian itu bukan alasan untuk menurunkan kepercayaan ke pesantren.

Sorotan tersebut disampaikan Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kemenag Thobib Al Asyhar. Dia kembali menyampaikan belasungkawa mendalam atas korban jiwa dalam musibah tersebut.

“Kita mendoakan para korban yang wafat agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah, mudah-mudahan syahid, dan yang luka-luka segera diberi kesembuhan,” ujar Thobib Al Asyhar, Jumat (3/10).

Dia menjelaskan, Menag Nasaruddin Umar sudah meninjau lokasi ambruknya bangunan pesantren itu. Kehadiran Menag Nasaruddin itu tidak hanya sebagai bentuk empati. Tetapi juga untuk memahami secara langsung penyebab musibah. 

“Pak Menteri melihat ada banyak hal yang ke depan harus diperbaiki," kata Thobib Al Asyhar.

Dia menyebutkan, kasus itu menjadi pelajaran agar seluruh pondok pesantren benar-benar memperhatikan standar pembangunan. Tujuannya semata demi kenyamanan dan keamanan para santri.

Thobib mengakui, Kemenag tidak memiliki kewenangan teknis dalam menilai kelayakan bangunan. Untuk itu mereka siap berkoordinasi dengan kementerian lain, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Tujuannya untuk mendorong penerapan regulasi dalam pembangunan sarana pesantren. 

“Ada kelemahan dari sisi bangunan yang harus dievaluasi," jelas Thobib Al Asyhar.

Kemenag akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk sosialisasi dan pendampingan kepada pimpinan pesantren. Agar pimpinan pesantren memahami pentingnya mengikuti prosedur pembangunan sesuai regulasi. Thobib menegaskan musibah di pesantren Al Khoziny itu harus jadi pelajaran bersama.

"Tetapi bukan alasan untuk mengurangi kepercayaan pada pesantren,” tandas Thobib Al Asyhar.

Terkait proses evakuasi, Thobib menjelaskan sejak hari pertama Basarnas berhati-hati dalam pencarian. Karena kondisi reruntuhan yang berisiko tinggi. Namun memasuki hari kelima, Basarnas memutuskan melakukan pembongkaran penuh setelah mempertimbangkan aspek keselamatan. 

Dia juga menekankan pentingnya izin mendirikan bangunan (IMB) dan kepatuhan prosedural dalam pembangunan pesantren maupun lembaga keagamaan lainnya. Semua bangunan pada prinsipnya harus berizin, bukan hanya pesantren.

"Regulasi sudah ada, tinggal dipatuhi agar tidak menimbulkan risiko,” ujar Thobib Al Asyhar. 

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore