
Menag Nasaruddin Buka Suara Soal Dugaan Pembangunan Ponpes Sidoarjo Tanpa Standar, Benarkah Pengecoran Dilakukan Santri? (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Tragedi ambruknya bangunan di area Pondok Pesantren Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo pada Senin sore (29/9) menyita perhatian publik. Proses evakuasi korban hingga kini masih berlangsung.
Peristiwa tragis tersebut terjadi saat para santri Pondok Pesantren Al Khoziny sedang melakukan Salat Ashar rakaat kedua, sekitar pukul 15.35 WIB. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan.
Tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan mengapa gedung tiga lantai di pondok pesantren legendaris itu bisa ambruk seketika. Kegiatan pengecoran pun menjadi salah satu sorotan.
Bahkan, muncul isu bahwa pihak yang melakukan pengecoran bukan lah pekerja konstruksi profesional, melainkan gotong royong dari para santri. Isu tersebut ditanggapi oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
"Ya, saya nggak tahu sampai di situ. Tetapi yang jelas bahwa sekian banyak pondok pesantren yang dibangun juga menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan di pondok pesantren," ujar Nasaruddin di lokasi, Selasa (30/9).
Yang jelas hingga saat ini, penyebab ambruknya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny belum diketahui. Kepolisian, Basarnas, hingga pihak kepolisian masih fokus untuk mengevakuasi seluruh korban.
"Tetapi insyaAllah kita akan menciptakan suatu kondisi, bagaimana supaya pembangunan pondok pesantren itu sesuai dengan standar dan peraturan yang berlaku. Kan kita kan sudah punya standarnya kan?" imbuhnya.
Berdasarkan data sementara yang dikeluarkan Kantor Basarnas Surabaya, sebanyak 102 orang santri menjadi korban tragedi ini, baik itu evakuasi mandiri maupun evakuasi oleh Tim SAR gabungan.
Dari jumlah tersebut, 3 orang korban dilaporkan meninggal dunia. Kemudian 38 orang diduga masih terjebak di balik reruntuhan bangunan. Korban dilarikan ke RSUD Notopura, RSI Siti Hajar dan RS Delta Surya.
Adapun tiga santri yang dilaporkan meninggal dunia, Maulana Affan Ibrahimafic, 15 tahun, warga Surabaya; Mochammad Mashudul Haq, 14 tahun, warga Surabaya; dan Muhammad Soleh, 22 tahun, warga Bangka Belitung.
"MasyaAllah jadi musibah yang betul-betul di luar dugaan kita semuanya. Ini pembelajaran buat kita semuanya. Jangan lagi ada pondok pesantren yang seperti ini," pungkas Nasaruddin Umar.
Hingga Selasa (30/9) pukul 22.30 WIB, Tim SAR gabungan terus berupaya untuk mengevakuasi korban yang masih terjebak dalam reruntuhan bangunan. Mereka optimis korban dapat diselamatkan dalam keadaan selamat. (*)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
