
Para tukang becak di Surabaya yang menunggu penumpang. (Juliana Christy / JawaPos.com)
JawaPos.com - Tukang becak yang dahulu menjadi salah satu ikon transportasi tradisional Surabaya, kini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Seiring dengan munculnya berbagai alternatif transportasi modern, penurunan jumlah penumpang becak menjadi fenomena yang semakin nyata di Surabaya.
Berbagai moda transportasi berbasis teknologi, seperti ojek online dan taksi online, kini menjadi pilihan utama masyarakat. Kepraktisan dan efisiensi yang ditawarkan oleh transportasi berbasis aplikasi membuat masyarakat beralih dari becak yang dianggap lebih lambat.
"Kalau pakai ojek online, saya bisa sampai lebih cepat, lebih praktis, dan lebih murah," ujar salah satu warga Surabaya yang sering menggunakan layanan tersebut.
Menurut beberapa tukang becak di kawasan Kembang Jepun, penurunan jumlah penumpang mulai dirasakan dalam beberapa tahun terakhir.
"Dulu, becak sering penuh penumpang, terutama di sekitar pasar atau daerah wisata. Tapi sekarang, orang lebih memilih naik ojek atau taksi online," ungkap salah seorang tukang becak, Kamis (19/12).
Selain itu, wisatawan yang biasanya menjadi andalan tukang becak kini juga lebih memilih moda transportasi yang lebih nyaman. Seorang tukang becak di kawasan Pantai Kenjeran mengaku bahwa wisatawan yang dulu setia menggunakan jasa becak kini lebih memilih kendaraan pribadi atau layanan transportasi berbasis aplikasi.
Meski menghadapi tantangan besar, para tukang becak mencoba beradaptasi. Beberapa dari mereka menawarkan tarif lebih murah atau memberikan pengalaman wisata lokal yang personal untuk menarik minat penumpang. Ada pula yang menyediakan jasa untuk acara-acara tertentu seperti pernikahan atau acara adat.
Namun kenyataannya, peran becak di Surabaya saat ini lebih sebagai simbol budaya dan tradisi, bukan lagi sebagai moda transportasi utama. "Kami tidak hanya mencari nafkah, tapi juga ingin melestarikan warisan budaya Surabaya," ujar seorang tukang becak di kawasan Keputran.
Keberadaan becak sebagai warisan budaya Surabaya memerlukan perhatian dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan komunitas lokal. Dukungan berupa pelatihan, promosi wisata, atau kebijakan khusus dapat menjadi solusi untuk memastikan keberlanjutan para tukang becak.
Penurunan jumlah penumpang tukang becak adalah cerminan dari perubahan zaman yang membawa masyarakat ke arah modernisasi. Namun, di tengah arus perkembangan ini, becak tetap memiliki tempat khusus dalam sejarah dan budaya kota Surabaya, menjadi pengingat akan nilai-nilai tradisional yang tak lekang oleh waktu.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
