
ILUSTRASI. (AI/AGUNG KURNIAWAN/JAWA POS)
Kelompok pembajak truk banyak meninggalkan pola bajing loncat jalanan dan memilih menyusup ke grup para sopir truk di Facebook serta WhatsApp untuk memilih sasaran. Barang jarahan tidak disimpan, melainkan langsung dijual kepada agen, toko, maupun pembeli lain yang tidak terafiliasi dengan jaringan pelaku.
RAMADHONI CAHYA C.W., Surabaya
---
MUNGKIN, mereka takut dengan orang-orang semacam Anwar Tohari. Yang dalam novel karya Mahfud Ikhwan, Anwar Tohari Mencari Mati, dikisahkan bisa berkelebat dan menghajar para bajing loncat yang hendak mencoleng muatan truk yang dia tumpangi.
Atau ini semacam "konsekuensi gelap" dari frasa Latin yang terkenal itu: sic transit gloria mundi. Tak ada yang kekal di dunia ini, semua berubah. Termasuk pola kejahatan.
Jadi, para bajing loncat pun meninggalkan model membajak truk di tengah jalan. Mereka mengikuti zaman, mencari sasaran dengan menyusup ke grup media sosial para sopir truk.
Polda Jatim mengungkapkan metode baru bajing loncat itu mulai marak terjadi sekitar 2020 begitu pandemi Covid-19 merebak. Pelaku yang terdiri atas beberapa orang masuk ke grup sopir truk di Facebook dan WhatsApp. Mereka mencari sasaran dari unggahan anggota grup yang membutuhkan jasa angkut muatan.
Unggahan seperti itu biasanya detail memerinci jenis muatan, titik jemput dan antar, sampai waktu pengiriman. Para sopir pun akan berbondong-bondong berkomentar menawarkan jasa mereka. Termasuk nomor pribadi sopir yang bisa dihubungi. Dari situ, pelaku bisa memperkirakan sopir mana yang sekiranya dipilih oleh pengguna jasa.
’’Kan biasanya kalau harga atau jasa angkut yang ditawarkan cocok, sopir dan pengguna jasa balas-balasan komentar. Nah, pelaku memantau dari situ,” kata Dirreskrimum Polda Jatim Kombespol Farman kepada Jawa Pos kemarin (15/11).
Sama-Sama Ditipu
Begitu terpantau sopir mana yang akan jalan, kelompok pelaku yang berisi sekitar empat orang dengan peran masing-masing pun mulai bergerak. Mereka mulai menyusun rencana membajak truk muatan tersebut.
Saat sopir truk telah berangkat mengantarkan muatan, salah satu dari pelaku akan menghubungi sopir. Menyamar sebagai pemilik barang atau pengguna jasa.
Agar sopir truk percaya, pelaku beralasan menggunakan nomor baru atau nomor lain. Lalu, mengarahkan sopir agar mengantarkan muatan ke titik baru yang lebih dekat daripada tujuan asli. Secara psikologis, sopir bakal mengiyakan mengingat lokasi antar lebih dekat namun bayaran tetap sama.
’’Misal rute asli dari Surabaya menuju Semarang, tapi dibelokkan ke Mojokerto,” terang lulusan Akademi Kepolisian 1996 itu.
Lokasi yang dipilih biasanya tempat umum yang jauh dari keramaian. Mulai dari lapangan kosong, lapangan perkampungan, hingga pinggir jalan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
