Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Desember 2022 | 18.31 WIB

Dispendik Surabaya Sebut Tari Remo Masal Bagian Pembentukan Karakter

Kepala Dispendik Surabaya Yusuf Masruh. Diskominfo Surabaya/Antara - Image

Kepala Dispendik Surabaya Yusuf Masruh. Diskominfo Surabaya/Antara

JawaPos.com–Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya menilai, Tari Remo masal yang diikuti 65 ribu lebih masyarakat, pelajar, dan anggota sanggar tari, di Kota Pahlawan, pada Minggu (18/12) bagian dari pembentukan karakter.

”Ini juga menjadi salah satu upaya sebagai pembentukan karakter anak-anak. Bagaimana mereka bisa menghargai seni dan budaya, sekaligus untuk melatih motorik anak,” kata Kepala Dispendik Surabaya Yusuf Masruh seperti dilansir dari Antara di Surabaya, Jumat (16/12).

Menurut dia, Tari Remo masal tersebut bakal memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Kegiatan yang diselenggarakan Pemkot Surabaya tersebut dipusatkan di Jembatan Suroboyo.

Yusuf menjelaskan, selain dipusatkan di Jembatan Suroboyo, kegiatan Tari Remo masal yang digelar serentak mulai pukul 07.00 WIB itu lokasinya juga terbagi di sejumlah tempat bersejarah. Di antaranya, Jembatan Merah, Tugu Pahlawan, Jalan Tunjungan, Jembatan Sawunggaling, Halaman Balai Kota, Alun-Alun Balai Pemuda Surabaya, Taman Bungkul, Taman Apsari, Taman 10 Nopember, dan halaman SD-SMP se-Surabaya.

”Kami tanamkan anak-anak ini nilai-nilai sejarahnya. Misalnya di Jembatan Merah, Jembatan Sawunggaling yang sejarahnya tinggi. Harapannya, anak-anak ini juga bisa menghargai nilai-nilai tempat bersejarah,” ujar Yusuf Masruh.

Yusuf mengatakan, telah memberikan surat edaran kepada seluruh SD-SMP di Surabaya. Surat edaran itu berkaitan dengan teknis pelaksanaan Tari Remo masal. Pada intinya kegiatan itu tidak bersifat wajib diikuti seluruh pelajar Surabaya.

”Sementara bagi peserta tari, dapat menggunakan celana hitam dan atas putih dan untuk pelajar bisa menggunakan pakaian olah raga sekolah masing-masing,” tutur Yusuf Masruh.

Tak hanya itu, Yusuf juga menyebutkan, para peserta dari kalangan pelajar bisa mengganti udeng dengan hasduk merah putih. Termasuk juga selendang yang tidak harus merah, namun dapat disesuaikan dengan yang dimiliki para penari.

”Harapan kami ada keseragaman, tapi bukan berarti wajib mengenakan kostum remo komplet. Misal gongseng (kerincing kaki) bisa perwakilan, tidak harus semuanya di sekolah itu pakai. Yang penting berseragam dan penari tidak diwajibkan memakai riasan wajah,” terang Yusuf Masruh.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Heri Purwadi mengatakan, alasan memilih Tari Remo dalam agenda pemecahan rekor MURI tersebut karena Tari Remo sudah menjadi kesenian yang selalu ada setiap agenda Kota Surabaya.

”Di Surabaya, setiap tahun selalu diagendakan setiap Hari Jadi Kota Surabaya ada Tari Remo. Nah, kenapa kami tidak mencatatkan itu sebagai rekor MURI. Tetapi yang terpenting adalah lebih ke pengenalan sejarah dan rekor MURI itu sebagai bonus,” papar Heri.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore