Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Agustus 2022 | 13.21 WIB

Tunjang Food Estate Gresik, Rehabilitasi Embung Ditarget Tuntas 2022

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Seusai diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pekan lalu, (22/9), food estate (lumbung pangan) holtikultura berbasis buah mangga di wilayah Kecamatan Panceng, Gresik, diharapkan bisa terus bertumbuh dan berkembang. Ke depan, menjadi salah satu tumpuan ekspor dan pemenuhan kebutuhan mangga domestik.

Untuk menunjang optimalisasi food estate pertama di Gresik itu, pemerintah juga merehabilitasi embung atau waduk. ’’Embung air di Sukodono Kabupaten Gresik yang dibangun sejak 2016 untuk mendukung pengembangan food estate itu’’ kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dikutip dari website Kementerian PUPR.

Dia mengatakan, penyediaan sarana dan prasarana air tersebut salah satunya untuk ketahanan air dan ketahanan pangan. ‘’Saya pesan tolong lebih dilakukan penghijauan di sekitar embung, terlebih lokasinya berdekatan dengan perkebunan mangga," ujar Basuki.

Direktur Air Tanah dan Air Baku Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Agus Rudyanto menambahkan, embung tersebut memiliki luas genangan 28,65 hektare (ha). Total volume tampungan dari kolam lumbung 1, lumbung 2, lumbung 3, dan kolam penenang, mencapai 1,6 juta meter kubik (m3). "Embung ini diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan air pertanian lahan irigasi seluas 2.233 hektare," ujarnya.

Di kawasan tersebut, total luas daerah irigasi 2.233 ha. Dari luasan itu, sebanyak 250 ha akan ditanami mangga oleh PT Galasari selaku pengelola perkebunan mangga, dan sisanya nanti atau sekitar 1.900 ha untuk tanaman hortikultura lainnya dari para petani sekitar.

Agus menyebut, irigasi Sukodono dibagi menjadi tiga blok. Yakni, blok kiri, tengah, dan kanan. Blok kiri untuk lahan irigasi sekitar 900 ha, saat ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo sudah membangun jaringan irigasi berupa box-box untuk menyalurkan air sebanyak kurang lebih 36 buah.

Sementara itu, Kepala BBWS Bengawan Solo Maryadi Utama mengungkapkan, selain untuk irigasi, embung tersebut juga difungsikan untuk pemenuhan air baku sebesar 30 liter per detik bagi 9 desa yang berada di dua kecamatan.

Saat ini, sedang dilakukan rehabilitasi embung untuk penanganan longsor. ’’Ditargetkan rampung pada akhir 2022. Untuk ke depannya sesuai arahan Menteri PUPR pengelolaan air bakunya akan bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta," ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah meresmikan food estate mangga seluas 1.000 ha di kawasan tersebut. Ke depan diproyeksikan luasan food estate bisa bertambah menjadi lebih dari 2.000 ha. Food estate ini merupakan rintisan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga membagikan alat dan mesin pertanian (alsintan). Yakni,  berupa combine harvester 70 unit, traktor roda empat 80 unit, cultivator 100 unit, dan 50 unit pompa air.

Awal Mula Pengembangan Buah Mangga

Jauh sebelum diresmikan Presiden Jokowi, kawasan food estate itu memang sudah berkembang perkebunan holtikultura, khususnya buah mangga. Baik itu milik masyarakat setempat maupun yang dikelola PT Galasari Gunung Sejahtera (GGS), anak perusahaan PT Polowijo Gosari.

Bukan jalan mudah untuk mengelola lahan perkebunan itu. Maklum, kontur tanah bebatuan dan kering. Pengembangan itu dilakukan sejak PT GGS berdiri pada 24 November 1988. Awalnya, mangga yang dibudidayakan berjenis arum manis. Lalu, pada 2004,  PT GGS bekerjasama dengan Bee Valley Corp dari Thailand, mulai mengembangkan mangga Chokanan dan Namdokmai.

Saat ini, sudah berbagai macam varietas mangga terdapat di kawasan tersebut. Namun, dari banyak macam mangga, terdapat lima varietas unggulan. Yakni, Chokanan, Arum Manis, Namdokmai, Garifta Merah, dan Manalagi.

Dari total 200 ha perkebunan milik PT GGS, sekitar 100 ha sudah ditanami 5 jenis pohon mangga tersebut. Komposisinya, Chokanan 70 persen, Arum Manis 17 persen, Namdokmai 9 persen, Garifta Merah 3 persen, dan Manalagi 1 persen. Lahan sisanya, akan ditanami berbagai macam varietas pohon mangga secara bertahap.

Bukan tanpa alasan pemilihan jenis mangga tersebut. Selain kualitas rasa, juga kuantitas. Mangga Chokanan, misalnya. Jika premium beratnya bisa mencapai 600 gram lebih per buah, sedangkan berat rata-rata bisa 350 gram.

Lalu, Arum Manis premium beratnya antara 900 gram sampai 1 kilogram, dengan berat rata-rata sekitar 500 gram. Dalam satu pohon Arum Manis bisa menghasilkan 100 buah dengan bobot total mencapai 50 kg. Adapun Namdokmai, berat premium bisa mencapai 800-900 gram.

Sementara itu, untuk sistem perbanyakan bibit tanaman mangga selama ini menggunakan teknik menyambung batang (grafting). Untuk batang bawah dipilih pohon mangga Jawa karena akarnya lebih kuat dan tebal. Sedangkan bagian atas batang dipilih dari indukan pertama (F1) masing-masing pohon mangga. Dengan begitu, buah yang nanti dihasilkan akan bagus sesuai klasifikasi yang diharapkan.

Pengembangan itu terus dilakukan. Selain buah mangga, juga akan dilakukan penanaman aneka buah lokal. Ke depan, tidak hanya memproduksi mangga tetapi juga buah lokal lainnya dan menjadikan kawasan Wisata Agro.

Untuk perawatan tanaman, baik pupuk dan obat pembasmi hama, dilakukan sebisa mungkin meninggalkan bahan kimia dan menggantinya dengan bahan yang alami. Adapun pupuk, baik organik maupun anorganik, PT GGS menggunakan produk PT polowijo Gosari seperti pupuk NPK pullet, pupuk dolomit magfertil, dan pupuk organik fertilo.

Saat ini, pasar potensial domestik yang sudah dilayani antara lain Kota Surabaya, Bali, Jakarta, Jogjakarta, dan Balikpapan, Kaltim. Pasar ekspor yang sangat tinggi minatnya adalah Jepang dan beberapa negara lain.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore