Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Mei 2022 | 13.33 WIB

Bangga Mesut Ozil Memakai Kopiah Buatan Gresik

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Kehadiran Mesut Ozil, mantan pemain tim nasional Jerman, di Indonesia, beberapa hari lalu banyak menyedot perhatian publik. Termasuk ketika mengikuti salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Selain sosoknya yang sudah begitu familiar, ada satu yang juga menjadi pusat perhatian dari mantan penggawa Real Madrid dan Arsenal tersebut.

Apa itu? Barang atau benda yang dikenakan di kepala pemain bola klub Turki, Fenerbahce, itu. Yakni, kopiah atau ada juga yang menyebut dengan peci atau songkok. Ternyata, kopiah yang pakai Ozil itu  disebut made in atau buatan dari Gresik, Jawa Timur.

‘’Ikut bangga Ozil memakai kopiah buatan Gresik. Umumnya ketinggian kopiah itu antara 6 sampai 12 sentimeter. Nah, kopiah yang dipakai Ozil itu tingginya 11 sentimeter,’’ kata Achmad Fathoni, salah seorang perajin UMKM kopiah dari Kampung Kauman, Gresik.

Dari mana Ozil mendapatkan kopiah asal Gresik itu? Toni, panggilan akrab Fathoni, itu menduga kemungkinan dari Menteri Pariwisita dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Uno. ‘’Selain penggemar kopiah, Pak Sandi juga belum lama datang ke Gresik mengunjungi kampung kopiah di Gresik,’’ ungkap pemilik usaha kopiah merek Roda Mas itu.

Ya, meski kedatangannya ke Indonesia bagian dari kerja sama dengan salah satu brand apparel olahraga, Ozil juga bertemu dengan sejumlah petinggi. Di antaranya, bertemu Sandiaga Uno. Dalam kesempatan itu, salah satu agendanya adalah saling berbagi hadiah sebagai kenangan. Ozil memberikan jersey. Nah, Sandiaga salah satunya memberikan kopiah. Terlebih Ozil hendak salat Jumat di Masjid Istiqlal.

Sandi memang termasuk salah satu tokoh Indonesia penggemar kopiah. Dalam setiap kesempatan, dia kerap terlihat mengenakan kopiah. Ukuran kopiahnya bernomor 8 dengan tinggi 10-11 sentimeter. ’’Enak dipakai pecinya, pas. Kata sahabat saya, pakai peci itu bisa membuat kegantengan naik 30 persen,’’ ucap Sandi berseloroh, saat berkunjung pelaku UMKM produksi kopiah, Kampung Blandongan, Gresik, akhir 2018 lalu.

Kampung Blandongan termasuk salah satu kawasan yang memproduksi kopiah di Gresik. Ada ratusan UMKM di wilayah tersebut. ’’Produksi peci atau songkok ini bisa menjadi produksi kebanggaan Gresik, Indonesia. Bahkan dunia,’’ ungkap mantan calon Wapres itu.

Berbicara kualitas, kopiah asal Gresik memang terbilang paling favorit. Sebut saja Awing. Berdasarkan data, saat ini kopiah Awing berhasil memimpin pasar domestik. Bahkan, sudah lama menembus pasar ekspor. Mulai Malaysia, Singapura,Brunei Darussalam hingga Timur Tengah. Harga di pasaran bergantung model, bahan, dan motif. Kisannya antara Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu per biji.

Selain Awing, ada beberapa songkok Gresik yang juga tidak kalah kualitasnya seperti Roda Mas, yang dipakai pada Asian Games 2018. Kopiah yang diproduksi di Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Gresik, juga banyak yang diminati seperti cap Pendopo, Presiden, Lar, Tiga Terbang, dan merek-merek lainnya.

Bungah dan Gresik Kota, merupakan sentral produksi kopiah terbesar di Kabupaten Gresik. Berdasarkan data dari Pemkab Gresik, ada ratusan pelaku usaha yang juga tersebar di kecamatan lain. Di antaranya, Kebomas, Sidayu, Ujungpangkah, Duduksampeyan, Manyar, Panceng, Kedamean, Cerme, dan Dukun.

Meski beberapa daerah lain di Indonesia ikut memproduksi kopiah di antaranya Pekalongan, Tasik, dan Kudus, namun hingga kini Gresik tetap terdepan. para presiden juga hampir semua mengenakan kopiah buatan Gresik. Mulai Presiden Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.

Asal-usul Persebaran Kopiah

Kopiah merupakan salah satu perlengkapan salat bagi laki-laki. Terutama di wilayah Jawa. Namun, seiring perkembangan zaman, kopiah tidak hanya dipakai saat acara keagamaan atau ibadah. Adalah Bung Karno, presiden pertama RI, yang turut andil besar menjadikan kopiah seolah menjadi identitas bangsa Indonesia di mata dunia.

Kendati sudah begitu populer, banyak daerah menyebut dengan nama berbeda. Ada yang menyebutnya dengan peci, songkok atau kopiah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peci memiliki pengertian sebagai penutup kepala untuk pria. Terbuat dari kain atau bahan lain dibentuk meruncing kedua ujungnya. Sebutan lainnya, yakni kopiah atau songkok.

Di belahan dunia lain seperi Eropa dan Amerika menyebut kopiah atau peci itu dengan nama kufi, taqiyat, topi fez, dan lainnya. Meski sama-sama berfungsi sebagai penutup kepala, sejarahnya berbeda-beda. Peci, misalnya. Di kutip dari beberapa literatur, pada masa penjajahan Belanda disebut Petje. Dari kata Pet yang diberi imbuhan je.

Sementara itu, kopiah diadopsi dari bahasa Arab. Yakni, kaffiyeh atau kufiya. Namun, wujud asli kaffiyeh berbeda dengan kopiah. Adapun songkok dalam bahasa Inggris dikenal istilah skull cap atau batok kepala topi, sebutan Inggris bagi para penggunanya di Timur Tengah.

Nah, di wilayah Melayu atau kawasan yang pernah dijajah Inggris, kata skull cap tersebut mengalami metamorfosa pelafalan. Dari skol kep menjadi song kep, yang kemudian menjadi song kok. Lalu, kata songkok disebut-sebut mulai populer di era kebangkitan nasional.

Dari buku berjudul ’’Sang Kopyah Simbol Nasionalisme Yang Terlupakan” terbitan DPRD Kabupaten Gresik, juga membahas bagaimana kopiah masuk ke Indonesia. Salah satu versi sejarah yang berkembang adalah kopiah mulai menyebar di rumpun Melayu pada abad ke-13, seiring dengan perkembangan Islam di Nusantara.

Versi lain tulisan Rozan Yuno berjudul ’’The Origin of the Songkok or Kopyah”, kopiah diperkenalkan oleh pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Kopiah sudah menjadi pemandangan umum di kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar.

Siapakah pedagang Arab yang menyerbu kawasan Melayu abad ke-13 itu? Jika dirunut, mereka adalah koloni Arab dari keturunan Hadramaut di antaranya Yaman. Di Gresik, koloni Arab itu disebut mencapai puncak kebesarannya pada 1846. Menurut Liaw Yock Fang, sejarawan sastra Melayu-Tionghoa, dalam manuskrip yang bernomor MS 37083 yang tersimpan di Perpustakaan SOAS di London, songkok telah disebut dalam Syair Siti Zubaidah, 1840. ’’…berbaju putih bersongkok merah…”

Dr Muhammad Thoha, sejarawan Gresik, mengungkapkan jika kopiah sudah dikenal sejak zaman Sunan Giri. Hal itu juga sudah ditulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia, bahwa kopiah sudah dikenal di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa.

Diceritakan juga, suatu ketika Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar Islam di Pesantren Giri. Sekembalinya ke Ternate, Raja Ternate itu membawa kopiah. Selain sebagai simbol khas santri, kopiah saat itu juga menjadi salah satu media diplomasi sekaligus perdagangan. Barter antara kopiah dengan cengkeh atau rempah-rempah, di mana Maluku sebagai daerah penghasil.

’’Dari situlah persebaran kopiah dimulai hingga menyebar ke seluruh penjuru Nusantara,’’ ungkap Thoha.

Karena sejarah itu, lanjut dia, wajar kalau kemudian kopiah pun lebih identik dengan Islam atau kaum santri. Lihat saja, para santri kalau tidak mengenakan kopiah, rasanya ada yang kurang. Bahkan, kalau tidak memakai kopiah di pesantren itu bisa distigma kurang sopan atau santri mokong.

‘’Jadi, kopiah memang sudah menjadi simbol santri, antiasing atau bukan bagian dari penjajah. Sebab, dulu kan blangkonan,’’ jelas mantan sekretaris PCNU Gresik itu.

Dalam perkembangannya, belakangan ada sebagian kelompok berusaha kuat mendeskralisasi kopiah yang sudah menjadi kebanggaan di Nusantara. Mereka itu mengampanyekan atau mengenakan busana ke-Arab-Araban. Seolah yang memakai kopiah dinilai kampungan, tradisional, dan sejenisnya. Sedangkan mereka mengklaim lebih Islami.

‘’Nah, gerakan ini mesti diwaspadai. Kita mesti tetap bangga dengan kopiah sebagai salah satu identitas Indonesia,’’ pungkasnya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore