Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Desember 2023 | 03.12 WIB

Dinkes Surabaya Sebut Kasus Pneumonia Seperti di Tiongkok Tidak Terdeteksi

Kepala Dinas Kesehatan Nanik Sukristina. - Image

Kepala Dinas Kesehatan Nanik Sukristina.

JawaPos.com–Pada awal November, Tiongkok melaporkan peningkatan jumlah pasien dengan infeksi saluran pernapasan. Nah, pada akhir November dilaporkan adanya klaster dengan undiagnosed pneumonia pada anak di Tiongkok Utara, yang belum jelas apakah berhubungan dengan peningkatan kasus infeksi sistem pernapasan yang dilaporkan sebelumnya atau merupakan kejadian yang terpisah.

Laporan dari Tiongkok tersebut mengidentifikasi beberapa bakteri dan virus penyebabnya. Yakni Mycoplasma Pneumoniae, influenza, respiratory syncytial virus (RSV), dan SARS COV-2. Namun, tidak ada informasi terkait derajat keparahan penyakit dan angka kematian akibat penyakit tersebut.

Nah, bagaimana dengan kondisi di Surabaya?

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, hingga saat ini di Surabaya, belum ditemukan kasus pneumonia seperti di Tiongkok. Kendati demikian, dia mengimbau agar masyarakat Surabaya untuk tetap waspada.

”Imbauan pakai masker jika memang lagi sakit harus ditegakkan. Pakai masker dan jangan lupa cuci tangan,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Nanik Sukristina saat dikonfirmasi JawaPos.com.

Selain kasus pneumonia, Nanik juga menyinggung mengenai kasus Covid-19 dengan varian baru di Surabaya. Dia memastikan kondisi di Surabaya masih aman dan terkendali.

”Kami berharap untuk terus aman dan terkendali, mari terus saling mengingatkan untuk menggunakan masker,” ujar Nanik Sukristina.

Meski demikian, Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan sejumlah hal berikut:

  1. Meski terjadinya peningkatan jumlah kasus undiagnosed pneumonia yang disebabkan Mycoplasma pneumonia di Tiongkok merupakan informasi yang perlu dicermati, diwaspadai, dan ditindaklanjuti, tetapi tidak perlu menimbulkan kepanikan di masyarakat.
  2. Surveilans infeksi sistem pernapasan pada anak (termasuk pneumonia) di Indonesia perlu lebih ditingkatkan, termasuk peningkatan fasilitas dari pemerintah untuk pengadaan fasilitas pemeriksaan untuk mengetahui kuman penyebab pneumonia pada anak, termasuk Streptococcus pneumonia, RSV, Mycoplasma pneumonia, dan lain-lain.
  3. ⁠Rumah sakit, klinik, dan puskesmas, di Indonesia perlu melakukan analisis data jumlah pasien/kunjungan dan kematian akibat infeksi saluran pernapasan/pneumonia dari waktu ke waktu, baik pasien rawat inap, rawat jalan maupun instalasi gawat darurat, agar dapat dilaporkan dan dilakukan antisipasi dini jika ditemukan adanya peningkatan jumlah kasus yang signifikan.
  4. Mycoplasma pneumonia bukan merupakan kuman baru, dan pneumonia akibat Mycoplasma pneumoniae biasanya menyebabkan gejala pneumonia yang ringan yang dapat diobati dengan antibiotik.
  5. Masyarakat perlu meningkatkan kembali perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk kebiasaan mencuci tangan dan pemakaian masker.
  6. Pemberian ASI eksklusif, vaksinasi lengkap dan vitamin A dosis tinggi sangat penting untuk mencegah bayi dan anak dari pneumonia.
Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore