Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Desember 2023 | 00.46 WIB

Dewan Pendidikan Surabaya Desak Dispendik Gelar Kajian Soal Sekolah Dua Sif

Ilustrasi siswa SMA pulang sekolah. - Image

Ilustrasi siswa SMA pulang sekolah.

JawaPos.com–Hingga kini, beberapa sekolah di Surabaya masih menerapkan dua sif atau dua kali masuk untuk siswa. Salah satu faktor penyebabnya yakni bangunan sekolah yang tidak memadai untuk menampung semua siswa, jika diberlakukan masuk dalam satu waktu.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo mendesak dan mendorong Dinas Pendidikan Surabaya untuk mulai mengkaji. Kajian tersebut tentang apakah sistem atau kebijakan dua sif untuk masuk ke sekolah masih relevan dan baik untuk diterapkan saat ini.

”Sebab, ada dampaknya ketika sistem dua sif itu diterapkan untuk anak-anak. Dewan Pendidikan Surabaya meminta agar Dispendik Surabaya memberlakukan kebijakan sesuai kajian,” ujar Juli Poernomo.

Beberapa dampak tersebut misalnya ketika anak-anak ada yang masuk siang, pagi hingga siang, anak tidak mungkin memakai waktunya untuk istirahat. Mayoritas, anak-anak bermain atau bersosialisasi di luar rumah dengan teman-teman lainnya.

Nah, kata Juli Poernomo, hal itu akan berdampak terhadap performa penerimaan belajar ketika anak tersebut masuk sekolah. Dia khawatir anak yang masuk siang hari akan kelelahan di sekolah.

Belum lagi, lanjut Juli, guru atau sumber daya pengajar di sekolah tersebut. Dia mengkhawatirkan para guru yang mengajar dobel (pagi dan siang mengajar), akan keletihan juga.

”Maka transfer ilmunya akan tidak optimal,” ucap Juli.

Analisis faktor mengapa kebijakan dua kali sif masuk siswa di sekolah-sekolah Surabaya harus ditemukan dengan tepat. Juli mengungkapkan, apabila karena infrastruktur sekolah tidak mumpuni, Dispendik Surabaya harus evaluasi.

”Aturan rombongan belajar siswa itu kan sudah jelas. SD 28, SMP 32, jangan kelebihan berarti dari itu per rombongan belajar,” papar Juli.

Dini, salah satu orang tua siswa dari Surabaya mengatakan, sistem dua sif untuk anaknya sangat merugikan. Terutama untuk para ibu yang pagi harinya bekerja. Dia tidak bisa mengawasi anaknya.

”Bingung juga, ibu dan bapak sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Anak masuk siang juga kebanyakan bolos karena kelelahan,” ujar Dini.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore