(Kiri ke Kanan): Koordinator Pelaksana ACEC 2023 Yanuar Nugroho SE MSc Ak CA, Ketua Umum TDA Ichlasul Amal Rangga Winata, Ketua Kadin)Surabaya Ali Affandi, serta Wakorwil IEC Jatim Ramadhan.
JawaPos.com - Perhelatan Airlangga Collaborative Entrepreneur Camp (ACEC) 2023 yang digelar selama dua hari telah memberikan banyak insight dan pengalaman bagi 400 peserta. Sebanyak 40 stan produk kreatif dipamerkan pada 2–3 Desember di Atrium Royal Plaza Surabaya.
DALAM talk show bertema Bisnis Kolaboratif: Kunci Sukses di Era VUCA, Minggu (3/12), para narasumber kredibel dihadirkan. Yakni, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya Ali Affandi, Ketua Umum Komunitas Tangan di Atas (TDA) Ichlasul Amal Rangga Winata, serta Wakorwil Indonesia Export Channel (IEC) Jatim Ramadhan.
VUCA merupakan volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas). Yaitu, situasi perubahan sangat cepat, tidak pasti, kompleks, dan ambigu yang disebabkan transformasi digital atau teknologi.
Ali Affandi menyampaikan, dalam era VUCA, pengusaha harus punya diferensiasi dan positioning terhadap value yang ditawarkan. Apalagi, produk Indonesia sekarang tidak kalah dengan produk luar negeri. Peserta ACEC pun saat ini menurutnya dalam masa inkubasi prototipe.
”Saya melihat optimisme di ACEC. Binaan dari Unair luar biasa sekali. Kita bisa melihat banyak produk luar biasa yang terdiferensiasi punya value. Tinggal mengkolaborasikan untuk upscaling dengan networking di channel yang tepat,” paparnya.
Ketua Umum Komunitas Tangan di Atas (TDA) Ichlasul Amal Rangga Winata menjelaskan bahwa kunci menghadapi VUCA adalah kolaborasi, kecepatan, dan ketepatan. ACEC Expo, kata Ichlasul, merupakan program luar biasa. Unair memfasilitasi mahasiswa untuk aktualisasi diri di dunia bisnis.
”Mereka juga dipantau setelah lulus, apakah bisnis diteruskan atau tidak. Karena itu poin pentingnya. Goal acara ini adalah memperbanyak pengusaha yang lahir dari kampus,” ujarnya.
Tak kalah menarik, Wakorwil Indonesia Export Channel (IEC) Jatim Ramadhan membuka insight para peserta. Ramadhan melihat para peserta ACEC cukup potensial dan bisnisnya beragam. ”Ternyata inkubator Unair berhasil menciptakan entrepreneur muda di berbagai industri. Mulai sektor riil hingga jasa. Karena pangsa pasar cukup luas, diharapkan bisa go global,” katanya.
Baca Juga: Kekurangan atau Kelebihan Hormon Tiroid Ternyata Berbahaya, Begini Penjelasan Ahli
DPKKA Unair kemarin juga melakukan penandatanganan MoA dengan IEC Jatim sebagai upaya memberikan jalan kepada para pengusaha muda ACEC untuk melangkah ke pasar yang lebih luas.
Tampilkan Produk Inovatif dan Kreatif
Para peserta di ACEC 2023 memiliki semangat berkarya sekaligus berbisnis yang luar biasa. Terutama para peserta ACEC yang sebagian besar didominasi dari Unair. Misalnya, ACEC 19 Unair yang menghadirkan representasi unik dengan elemen artistik dan tradisional dalam kehidupan sehari hari melalui Leather Wastra (Leastra).
Leastra merupakan bisnis yang fokus di bidang fashion kulit. Leastra memadukan bahan kulit sapi asli dan kain batik. Bisnis tersebut berupaya mengurangi limbah kulit sapi dan mengubahnya menjadi hal berguna selain olahan makanan.
Berbeda dari yang lain, ACEC 20 Unair menawarkan Ruang Data dan Dibi Bronie. Ruang Data merupakan komunitas yang mewadahi para data enthusiast untuk mengembangkan skill di bidang data analytics, data scientist, data engineering, data visualization, dan skill pengelolaan data lain.
Produknya adalah edukasi digital melalui konten berwawasan, pelatihan data berupa bootcamp, jasa analisis dan konsultasi data, serta pelatihan terkait data. Sedangkan Dibi Bronie diracik dengan resep inovatif yang menggabungkan rasa tradisional brownies dengan sentuhan modern.
Selanjutnya, ACEC 07 Unair yang menghadirkan keripik brownies dan kopi dengan merek Beeja. Bahan dasar rempah menjadi kunci langkah awal menuju hidup sehat. Keripik brownies Beeja berbahan dasar cokelat dengan kandungan antioksidan yang dapat mengurangi kolesterol, mencegah risiko serangan jantung, kanker, dan darah tinggi. Sedangkan milk coffee Beeja berbahan utama daun jeruk purut yang dapat membantu meredakan stres dan meningkatkan mood.
Kukis Catch n Crunch dari kelompok ACEC 21 Unair menggunakan tepung dari olahan ikan. Inovasi kukis ikan itu belum banyak ditemui di pasar. Selain itu, cocok untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Kukis tersebut bertekstur lembut di dalam dan renyah di luar dengan campuran tepung ikan bandeng. Menjadi alternatif camilan bagi orang yang jarang konsumsi ikan.
Berbeda lagi inovasi dari Universitas Qomaruddin Gresik yang menghadirkan produk game fisik dan video game. Game fisik berupa produk game ular tangga. Uniknya, permainan tersebut mengenalkan budaya Indonesia dari 38 provinsi. Sedangkan video game yang dibuat bercerita tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. Salah seorang anggota, Ahmad Adlan Arief, mengatakan bahwa mereka ingin membuat media pembelajaran yang menarik sekaligus mengesankan. (nof/c17/kkn)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
