
Anggota Komisi D DPRD Surabaya Herlina Harsono Njoto.
JawaPos.com–Peningkatan kasus HIV di Kota Surabaya terjadi bukan di kalangan usia pasien dewasa saja. Namun, penderita HIV pun menyasar kalangan remaja. Tepatnya di usia 15-19 tahun.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya Herlina Harsono Njoto menyebut penderita HIV di Kota Pahlawan makin meningkat. Penambahan kasus HIV di Surabaya lebih kurang 30 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.
”Ini jadi alarm bagi kita semua. Karena jika penderita HIV dari usia 0-14 tahun, penularan dari orang tuanya. Kenyataannya yang terjadi adalah ini remaja yang mereka beraktivitas secara mandiri,” ujar Herlina, Srikandi Demokrat, kepada JawaPos.com.
Berdasar data yang dihimpun, kasus HIV dari 2022 – 2023 di Surabaya kelompok umur dengan NIK Surabaya, kurang dari 14 tahun usianya ada 7 penderita, 15-19 tahun 36 penderita, 20-24 tahun 106 penderita, 25-49 tahun ada 398 penderita, dan lebih dari 50 tahun sebanyak 53 penderita.
Sementara itu, untuk 2022, usia kurang dari 14 tahun ada 8 penderita, 15-19 tahun 21 penderita, 20-24 tahun 120 penderita, 25-49 tahun ada 386 penderita, dan lebih dari 50 tahun sebanyak 51 penderita.
”Di usia 15-19 tahun di 2022 dan 2023 terlihat ada peningkatan 15 orang yang menderita HIV,” ujar Herlina yang juga Ketua Fraksi Demokrat Surabaya itu.
Dia berharap agar Pemerintah Kota Surabaya bersinergi dengan pemerintah provinsi. Sebab, di usia 15-19 tahun ada dua jenjang pendidikan. Yakni, SMP dan SMA. Sementara itu, untuk pendidikan di SMA sederajat ada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
”Tolong kedepankan pendidikan yang humanis. Ini masalahnya masih di fase yang bisa dibentuk kok di fase pendidikan SMP dan SMA. Harapan untuk menjadikan generasi yang lebih baik lagi masih ada,” imbuh Herlina.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Nanik Sukristina menyampaikan bahwa Kota Surabaya telah melakukan perluasan layanan testing HIV melalui 122 layanan. Di antaranya pada 63 puskesmas, 57 rumah sakit, dan 2 klinik utama.
”Sedangkan, untuk pemberian layanan dukungan, perawatan dan pengobatan (PDP) HIV juga telah tersebar di 52 layanan di 38 puskesmas, 13 rumah sakit, dan 1 klinik utama,” kata Nanik, Jumat (1/12).
Dalam kondisi normalisasi layanan testing HIV pasca pandemi Covid-19 pada fasilitas pelayanan kesehatan, Nanik menjelaskan, kasus HIV dapat ditemukan sejak dini dan segera ditata laksana melalui pengobatan sesuai standar. Kepatuhan mengonsumsi obat ARV bagi pasien terinfeksi HIV turut dipantau dan dikawal dengan ketat.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
