
Pemandangan di kawasan Ketabangkali dengan adanya patung Suro dan Boyo yang berwarna-warni menambah keindahan sudut kota Surabaya kemarin malam. (Dite Surendra/Jawa Pos)
JawaPos.com – Tawaran pekerjaan untuk keluarga miskin (gamis) dengan janji pendapatan mendekati upah layak ternyata sepi peminat. Tawaran Pemkot Surabaya itu bertepuk sebelah tangan. Pemkot Surabaya mencatat ada 19.643 jiwa dari 19.484 gamis menolak lowongan kerja di program padat karya itu.
Di Surabaya, ada 219.427 jiwa masuk kategori gamis yang telah diverifikasi faktual April lalu. Survei yang melibatkan seluruh ASN di Pemkot Surabaya secara door-to-door untuk menyiapkan berapa jumlah lapangan usaha lewat padat karya lagi yang perlu disediakan.
Dengan kepastian pendapatan yang mendekati upah layak. Serta berbagai intervensi lain untuk mendorong capaian penurunan gamis. Hasilnya, 19.643 orang menolak tawaran itu.
Dinas sosial (dinsos) menyebut ada beberapa alasan yang mendasari keputusan itu diambil warga. Salah satunya karena sudah merasa cukup dengan pekerjaan yang ada sekarang.
’’Berikutnya, mereka merasa lebih nyaman menerima bantuan. Karena ada yang bisa dijagakan,’’ kata Kepala Dinsos Surabaya Anna Fajriatin kemarin.
Menurut Anna, mereka itu lebih suka diberi uang dan sering kali menolak bantuan modal berupa barang. Bahkan, muncul persepsi di kalangan mereka modal itu bukan bantuan.
’’Menurut mereka bantuan ya berupa uang, bukan barang. Sementara Pemkot Surabaya saat ini berupaya memberikan intervensi lewat sesuatu yang produktif,’’ ujarnya.
Anna mengatakan, mereka yang benar-benar menolak itu akan dianggap sudah mampu dan bisa mandiri. Otomatis akan keluar dari list nama gamis. Bantuan akan dialihkan bagi mereka yang mau.
Sementara itu, pakar sosiologi Universitas Airlangga Prof Bagong Suyanto mengungkapkan, kondisi tersebut merupakan dampak dari kebijakan negara yang selama bertahun-tahun cenderung memberikan bantuan secara tunai. Masyarakat yang berada di garis kemiskinan gagal untuk self help atau menolong dirinya sendiri. Akhirnya muncul ketergantungan.
’’Karena terus-menerus diberi uang tunai menimbulkan ketergantungan. Merasa perlu menunggu saja. Padahal, kalau bicara pengalaman, aset produktif lebih signifikan dampaknya,’’ papar guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair itu.
Bantuan berupa aset bisa berkelanjutan. Artinya, membantu orang miskin lebih mandiri. Mampu menolong dirinya sendiri keluar dari kemiskinan yang sistematis itu. ’’Kalu dibantu aset, seharusnya malah senang,’’ ucap dekan FISIP Unair itu.
Dia pun menyarankan agar Pemkot Surabaya tetap pada mekanisme pemberdayaan saja. Cara itu sudah tepat, tinggal diprogram agar bisa berkelanjutan dan memutus rantai kemiskinan yang terjadi. Dengan begitu, gap antara si kaya dan si miskin bisa semakin kecil. (gal/c17/jun)
LOWONGAN KERJA UNTUK KELUARGA MISKIN
1. Program padat karya berupa pembuatan paving, cuci mobil, jadi barista, toko kelontong, tukang bangunan, dan budi daya maggot.
2. Ada 34 lokasi padat karya dan bisa ditambah.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
