
Vicky Shu menjalankan pola hidup sehat dan olahraga. (Dok. Vicky Shu)
JawaPos.com – Perjalanan menurunkan berat badan bukan sekadar soal penampilan. Di tengah gaya hidup serba cepat, tekanan pekerjaan, hingga minimnya aktivitas fisik, menjaga tubuh tetap sehat kini menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang. Kondisi itu pula yang sempat dialami penyanyi Vicky Shu setelah melahirkan anak keduanya.
Perubahan hormon pascamelahirkan membuat berat badan Vicky meningkat cukup signifikan. Di saat berusaha kembali beradaptasi dengan aktivitas sehari-hari, dia justru menghadapi body shaming hingga mom shaming di media sosial. Namun, Vicky memilih fokus pada kesehatan dibanding memenuhi standar kecantikan orang lain.
Transformasi tubuh Vicky sempat membuat publik menduga dirinya menjalani operasi potong lambung. Padahal, dia mengikuti program weight management Halofit by Halodoc selama delapan minggu dengan pengawasan medis berbasis sains dan teknologi. Selain menjalani program tersebut, Vicky juga menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berjalan kaki setiap hari serta memperbaiki pola makan.
“Aku memilih program Halofit karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja. Melalui program ini, aku mendapatkan pengawasan dari tim dokter selama 30 hari, diberikan meal plan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhku, dan mendapat terapi GLP-1, jadi nafsu makan aku lebih terkontrol dan nggak lagi lapar mata," ujar Vicky.
"Apalagi Halofit ini bisa diakses secara online juga ya, jadi memudahkan aku yang sehari-hari sudah padat bekerja dan mengurus keluarga. Perjalanan transformasi ini ngajarin aku bahwa kita nggak harus memenuhi standar kecantikan orang lain, karena tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan saja, tapi justru memiliki tubuh yang sehat, dan akhirnya pun dapat berdampak pada mental yang sehat,” tambahnya.
Menurut Vicky, olahraga ringan yang konsisten seperti berjalan kaki ternyata memberi dampak besar terhadap kebugaran tubuh. Aktivitas fisik sederhana tersebut membantu menjaga metabolisme tetap aktif, terlebih ketika dibarengi pengaturan pola makan yang lebih sehat dan terukur.
Fenomena yang dialami Vicky disebut mencerminkan persoalan yang lebih luas di masyarakat. Obesitas dan kelebihan berat badan masih sering dianggap sekadar akibat gaya hidup, padahal ada faktor hormonal, genetik, hingga metabolik yang memengaruhi kondisi seseorang. Karena itu, penanganannya dinilai perlu dilakukan secara personal dan didampingi tenaga medis.
VP Consultation & Diagnostics Halodoc Ignasius Hasim mengatakan, persoalan obesitas tidak bisa hanya dilihat dari angka timbangan semata. Menurut dia, perubahan gaya hidup sehat menjadi bagian penting dalam proses penurunan berat badan jangka panjang.
“Bagi Halodoc, mengatasi obesitas bukan sekadar menurunkan angka di timbangan, tetapi membantu masyarakat membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan,” jelas Hasim.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
