
Photo
JawaPos.com – Riau Ega Agatha Salsabila dan Diananda Choirunisa dicoret dari pelatnas panahan. Padahal, mereka adalah peraih tiket Olimpiade Tokyo 2020.
Mereka dianggap indisipliner karena ingin mendatangkan pelatih sendiri. Yakni, Denny Trisyanto yang selama ini dikenal sebagai pelatih Jawa Timur. Sementara itu, PP Perpani sudah menyeleksi pelatih untuk pelatnas.
Kepada Jawa Pos, Riau Ega yang merupakan pemanah recurve nomor satu putra Indonesia (nomor 67 dunia) menjelaskan pencoretan tersebut.
Sudah tahu soal pencoretan dari PP Perpani?
Sudah. Itu sudah lama sih. SK keluar sejak Juli. Imbas dari saya nggak datang (pelatnas) karena ada permohonan soal pelatih.
Kamu dianggap indisipliner karena ingin membawa pelatih sendiri?
Awalnya, setelah SEA Games 2019, pengurus lama bilang program Olimpiade jalan terus. Karena waktu itu ada masalah, ketua umum PP Perpani mengundurkan diri. Jadi batal.
Kemudian ada libur dua–tiga minggu, saya kembali ke daerah (Surabaya, Red). Mulai Januari, teman-teman yang sudah dapat tiket Olimpiade mulai pelatnas. Ya, memang belum dapat uang saku. Panahan sendiri waktu itu belum dapat anggaran. Saya tetap latihan di daerah.
Selama delapan bulan, saya nggak diperhatikan. Tidak dapat uang saku, fasilitas, kepastian buat pelatnas Olimpiade nggak ada. Kalau nggak ada pandemi, mestinya bulan lalu sudah berangkat.
Nah, selama delapan bulan itu, saya jalan sendiri dengan Jatim. Bahkan akan tryout ke Thailand. Sudah daftar dan bayar akomodasi. Namun, menjelang keberangkatan pada Maret, batal karena ada pandemi. Jadi, ya rugi di situ.
Saat webinar setelah terpilihnya pengurus baru, saya sampaikan saran pemilihan pelatih. Saya bilang tetap dengan pelatih yang sekarang (Denny Trisyanto) karena ada pertimbangan soal program yang sejak lama. Mereka bilang menampung aspirasi.
Kemudian ada seleksi pelatih. Pak Denny nggak masuk karena alasan hasil (tes) di bawah yang lainnya. Saya sempat pertanyakan hal itu. Saya mengajukan pelatih Pak Denny sudah sepaket kalau mau berangkat pelatnas. Kalau tidak, saya tidak datang (pelatnas). Akhirnya ada pencoretan itu.
Apa pertimbanganmu mengajak Pak Denny ke pelatnas?
Kebetulan yang mendampingi saya mendapat tiket Olimpiade itu Pak Denny. Maksud saya, program bisa disinkronkan sama yang sudah mendapat tiket (Olimpiade).
Saya berharap Pak Denny bisa masuk untuk kolaborasi. Saya sebagai peraih tiket juga punya tanggung jawab meraih medali emas (nomor) individu.
Pengurus Perpani pusat kan punya prioritas meraih dua tiket tambahan. Yaitu, nomor tim putra dan ada tim putri. Sementara yang sudah dapat itu individu putra, individu putri, dan mixed. Itu mencari (tiket) kalau sebulan, dua bulan, masih kurang. Programnya juga beda kalau untuk meraih medali. Jadi, saya minta kolaborasi pelatih. Biar bisa jalan.
Kalau dipisah, potensi tiga nomor yang sudah dapat itu hilang. Apalagi, tiket tambahan itu belum pasti. Event masih tahun depan. Saya nggak mau gambling di situ. Persiapan saya meraih tiket nggak sebentar. Bertahun-tahun. Bahkan sejak dari (Olimpiade) Rio 2016 itu mulainya. Harapannya bisa mendapat emas dengan meneruskan program sebelumnya. Jadi, persiapan pun nggak boleh main-main.
Diananda Choirunisa ketika tampil di final recurve individu Asian Games 2018 di Lapangan Panahan Senayan, Selasa 28/8/18. Diananda menjadi juara dua. Foto: Chandra Satwika/Jawa Pos.
Diananda Choirunisa ketika tampil di final recurve Asian Games 2018 di lapangan panahan Senayan, Jakarta. Diananda meraih perak. Dia dicoret dari pelatnas walau sudah lolos Olimpiade. (Chandra Satwika/Jawa Pos).
Bagaimana tanggapan federasi?
Sempat ada diskusi dan mencoba (pelatnas) empat bulan dulu. Nanti ada evaluasi. Mohon maaf. Demi Indonesia, ini event Olimpiade, nggak bisa dicoba-coba. Jalan lama, lalu belum tuntas, kemudian dipotong. Kalau hasil tidak sesuai, korelasinya bukan pengurus yang gagal. Tetapi Riau Ega-nya nanti yang gagal.
Dalam olahraga ada periodesasi latihan. Program makro, mikro, dan siklusnya. Kalau ke Jakarta tanpa pelatih, harus mengulang dari awal untuk meraih medali (Olimpiade). Harapan saya, kalau program bisa jalan terus, peak performance saya bisa dicapai saat Olimpiade. Dari federasi, anggapannya saya egois. Tidak mementingkan tim.
Saran saya tidak dipandang sebagai pertimbangan. Apa boleh buat. Saya sampaikan pertimbangan saya bukan karena masalah pribadi. Saya rasional. Pak Denny membantu saya dapat tiket dan mengurus saya selama saya dipulangkan ke daerah. Gaji saya nggak apa-apa kalau diserahkan ke pelatih. Yang penting saya berhasil. Dibilang ingin menang sendiri.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
