
Menpora Erick Thohir memberikan keterangan saat konferensi pers persiapan SEA Games 2025 di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (16/10/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir mengaku terbuka bila ada cabang olahraga dan atlet yang ingin berangkat secara mandiri menuju SEA Games 2025. Tapi ia mewanti-wanti bahwa bonus tak dijamin akan tersedia bila dapat medali.
Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI telah mengumumkan bahwa tim Indonesia akan memberangkatkan sekitar 700-800 atlet. Kuota itu diperoleh setelah Kemenpora disediakan anggaran sebesar Rp 60 miliar oleh Kementerian Keuangan.
Erick Thohir sebagai Menpora RI, menjelaskan bahwa anggaran yang ada tersebut akan dimanfaatkan untuk komposisi tim Indonesia hasil tim review. Sementara untuk cabor atau atlet yang tak masuk, Kemenpora disebutnya terbuka untuk berangkat mandiri dengan syarat-syarat.
"Kalau tadi ditanya mengenai bagaimana cabor-cabor yang ingin mandiri, hari ini kami belum ada diskusi itu. Tapi bisa aja dua-tiga minggu berkembang tergantung hasil meeting Kemenpora dengan cabor," ujar Erick Thohir dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/10).
"Ya kita terbuka. Tapi tunggu dulu, kita kunci dulu yang sekarang ada dulu gitu, karena kan yang tadinya dananya sangat terbatas sekarang kan oke, nah itu dulu," tambahnya.
Menurut Erick, perlu ada konsolidasi sebelum menetapkan secara pasti terkait cabor dan atlet berangkat mandiri. Ada sejumlah hal yang perlu disepakati, tak terkecuali terkait bonus jika nantinya sang atlet dapat medali.
"Jadi one step at the time nanti baru setelah kita konsolidasi dua minggu mungkin selesai baru kita buka, kalau ada yang mau mandiri seperti apa, konsekuensinya seperti apa," katanya.
"Kami terbuka juga. Problemnya kalau mandiri itu ketika di atas target, misalnya dapat medali emas. Nah, masalahnya ketika ada bonus, enggak bisa dialokasi," tegas Erick menambahkan.
Erick juga mengingatkan bahwa pemerintah tak bisa memberikan bonus bagi atlet mandiri karena keterbatasan dalam tata kelola keuangan negara. Ia pun berharap hal itu dapat dipahami oleh semua atlet dan cabor.
"Nah ini mesti saling ngerti juga. Jangan nanti tuntut-tuntutan di kemudian hari ya. Jangan juga merasa pemerintah prejudis atau membeda-bedakan. Tapi ini dasar yang awalnya 120 atlet menjadi hampir 700-800 atlet karena tambahan anggaran dari Rp10 miliar jadi Rp60 miliar, itu sudah luar biasa," tutur Erick.
"Jadi kalau nanti mau mandiri dan berhasil, ya tetap ada konsekuensinya belum tentu kami bisa menyediakan bonus karena kami yang namanya tata kelola keuangan negara," imbuhnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
