Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Maret 2025 | 00.53 WIB

Pelatnas Bulu Tangkis Belum Maksimal, Wakil Ketua Umum PBSI Taufik Hidayat Tegaskan Promosi-Degradasi Bisa Kapan Saja

Waketum I PBSI, Taufik Hidayat. (Antara)

JawaPos.com - Event badminton sudah berlangsung tiga bulan. Namun, hasil yang ada untuk atlet Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) belum begitu maksimal. Hasil terbaik diraih Bagas Maulana/Leo Rolly Carnanfo yang meraih runner up All England Super 1000 dan Lanny Tria Mayasari/Siti Fadia Silva Ramadhanti juara Thailand Masters Super 300.

Hasil itu tampaknya membuat geram. Apalagi, beberapa atlet di luar Pelatnas seperti Sabar Karyaman Gutama/M Reza Pahlevi Isfahani dan Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja meraih hasil yang cukup baik.

"Kan kalau di luar (Pelatnas) ini, ada 2. Ini saya baru bukanya, ada 2. Mereka lebih lepas, atau mereka gak ada pilihan," ujar Wakil Ketua Umum PP PBSI Taufik Hidayat saat diwawancarai di Pelatnas PBSI Cipayung Jakarta, Rabu (26/3).

Taufik bersyukur atlet di luar Pelatnas bisa meraih hasil optimal. Sebab, hasil yang ada juga buat Merah Putih. "Tapi berbeda-beda latihannya, berbeda caranya. Kami gak iri, gak jealous gitu loh. Tapi kami menyayangkan yang ada di Pelatnas. Kok bisa gitu," keluhnya.

Harusnya, sambung Taufik, para pemain yang ada di Pelatnas bisa menjadikan itu acuan. Terlebih, dia menilai di Pelatnas semua sudah difasilitasi. Mulai dari tempat latihan, asrama, tinggal makan. "Paspor diurus tinggal ambil di Cengkareng. Mikirin apa lagi coba?," ucapnya.

Sedangkan, lanjutnya, pemain di luar pelatnas harus mencari tempat latihan, mengurus transportasi dan hotel sendiri. "Maksudnya, di sini kan cuma tinggal mikirin latihan yang benar, pertandingan, cari prestasi, sudah. Gak usah bikin yang lain. Kontrak sponsor udah punya masing-masing. Dari awal sudah tahu angkanya berapa. Fresh money sudah langsung. Apa lagi gitu loh," katanya.

Karena itu dia selalu menekankan kepada atlet yang ada di Pelatnas bisa memaksimalkan waktu yang ada karena terbilang singkat. Taufik tak sungkan untuk mengganti atlet yang memang sudah tidak memiliki tekad kuat di Pelatnas. "Jadi sistemnya gak kayak dulu, nunggu setahun lagi. Promosi degradasi. Enggak. Ini bisa kapan saja," sebutnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Wamenpora itu menyayangkan jika atlet sudah dikasih 10 pertandingan tapi tidak ada hasil yang memuaskan. "Apalagi dia orangnya sudah lama di sini. Ngapain lagi. Mesti nunggu-nunggu lama. Buang-buang waktu," ucapnya.

Namun, untuk memasukkan dan mengeluarkan atlet harus mendapat masukan dari pelatih teknik, fisik, dan analisis yang setiap hari ada di Pelatnas untuk memantau perkembangan atlet. 

"Gak asal masukin juga. Tapi lebih fleksibel. Biar regenerasinya jalan terus. Kalau enggak, udah tau jelek, ditahan terus. Nunggu tahun depan, lama banget. Sedangkan yang di luar, mau masuk. Udah bagus nih. Nunggu tahun depan dong. Gak bisa," tuturnya.

Taufik tak khawatir dengan tidak adanya pemain senior bisa mempengaruhi atlet junior. Sebab, dia percaya untuk berproses dan atlet baru tidak terkontaminasi dengan atlet lama yang gak bagus.
"Kan gak ada ya, olahraga yang instan, terus baru masuk langsung juara. Kan gak mungkin juga, butuh waktu. Butuh berproses," ucapnya.

Dia juga tak masalah jika di kepengurusan ini hasilnya kurang baik. Sebab, dia berharap bisa memberikan legacy di periode selanjutnya."Kita butuh waktu berapa lama sih untuk Olympic ini? Saya dulu masuk 1996. 2000 ikut Olympic gak berhasil, 2004 baru berhasil. 8 tahun. Jadi gak gampang untuk proses itu," tuturnya. 

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore