
TANGGUH: Lukman Santoso salah satu pemain dari etnis Tionghoa yang pernah membela Persebaya.
JawaPos.com- Dalam perjalanan panjangnya sejak 1927, Persebaya membuktikan warna-warninya. Green Force -julukan Persebaya- bukan milik satu–dua golongan saja. Persebaya bukan diisi oleh satu–dua etnis saja. Persebaya begitu berwarna-warni.
Di antara para pemain Persebaya, terselip sejumlah etnis Tionghoa yang ikut melambungkan nama klub kebanggaan Surabaya tersebut. Inilah salah satu di antara berjibun pemain berdarah Tionghoa yang pernah merumput dan berprestasi di Surabaya
Namanya Loa Kwi San. Dia adalah benteng tangguh Persebaya pada era 1970-an. Dengan kehadiran Loa Kwi San alias Lukman Santoso, Persebaya menduduki posisi runner-up kompetisi PSSI 1973 dan menjadi tim dengan pertahanan terbaik.
Saat ini gerakannya pun masih lincah. Padahal, usianya 72 tahun. Tanda bahwa Engkong (Kakek) Lukman adalah lelaki yang selalu menjaga kebugaran fisik.
Sesekali dia tidak ragu menunjukkan skill bermain bolanya. Termasuk saat bermain bersama cucunya di halaman rumahnya, Perumahan Delta Dieng, Malang, Rabu (25/1).
Juggling ciamik diperlihatkan. Shooting kencang masih bisa dilakukan. Tepuk tangan dari sang cucu membuat pria asli Ngawi itu teringat masa-masa jayanya tatkala masih bertarung di lapangan hijau. Saat dia berkostum Persebaya dan timnas Indonesia.
Lukman memang tercatat menjadi pemain Persebaya sejak 1969. Berposisi sebagai bek tengah, dia adalah penerus generasi emas warga Tionghoa di Persebaya. Menjadi pemain yang dibawa langsung oleh legenda Persebaya saat itu, Januar Pribadi. Skill dan keuletannya menjadikan Lukman pemain tak tergantikan di lini belakang Persebaya.
’’Dulu lompatan saya tinggi. Lawan sulit menang saat duel bola atas,’’ ujarnya. Dengan tubuh menjulang setinggi 182 sentimeter, kehadiran Lukman bak Tembok Raksasa alias The Great Wall alias Wanli Changcheng, dinding setinggi lebih dari 8 meter dan panjang lebih dari 6.400 kilometer di Tiongkok.
Dengan kemampuan itu, Lukman disegani. Bahkan, Rusdi Bahalwan, salah seorang legenda Surabaya, juniornya, hampir tidak pernah bermain gara-gara kemampuan Lukman itu.
’’Dia cadangan saya, jarang main. Saya cedera, baru dia main,’’ katanya, lantas tersenyum. Rusdi akhirnya juga menjelma menjadi pemain hebat dan tactician legendaris dalam sejarah Green Force.
Menurut dia, permainan sepak bola era itu sangat fair play. Pemain saling pamer skill di lapangan hijau. Jarang ada pemain yang berniat mencederai lawan saat bertanding. ’’Kalau itu dilakukan, suporter pasti marah. Entah itu kamu bermain di kandang sendiri atau lawan. Mereka datang cuman untuk menikmati pertandingan, bukan menunggu kemenangan,’’ ungkap bapak tiga anak itu.
Hubungan antar pemain di lapangan juga sangat cair. Pemain keturunan Tionghoa tidak dilabeli berbeda sebagai pribumi atau nonpribumi. Selama memakai kostum sepak bola dan bermain di lapangan hijau, semua adalah saudara. Tak ada perbedaan ras atau agama.
Buktinya, selama menghuni skuad Persebaya, Lukman mengungkapkan bahwa dirinya dan pemain yang lain sudah layaknya keluarga. Tidak ada panggilan khusus untuk etnis tertentu. ’’Tidak ada yang memanggil saya China, Ahong, Koko, atau apa itu. Nama saya yang disebut. Junior memanggil Mas,’’ kenangnya.
Justru hal-hal berbau rasis dia temukan dari para penonton di lapangan. Teriakan China Komunis atau Cina PKI sering diterima Lukman tatkala membela Green Force. Itu memang imbas suasana politik yang dibentuk penguasa kala itu.
’’Tapi, saya tidak peduli. Saya pemain bola, bukan orang politik. Saya Indonesia, bukan PKI. Yang penting saya bertanding, membawa tim untuk mengalahkan lawan-lawan,’’ tegas suami Lim Ayli itu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022