Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan komitmen tegas melawan rasisme di sepak bola Indonesia. (PSSI)
JawaPos.com — Isu dugaan rasisme di kompetisi Elite Pro Academy (EPA) memantik perhatian serius dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Ia menegaskan, sepak bola nasional tidak boleh memberi ruang sedikit pun bagi tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan tersebut.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (22/4/2026), Erick menegaskan sikap tegas PSSI terhadap segala bentuk rasisme.
Ia menyebut, baik dalam kompetisi usia muda maupun profesional, tindakan rasis harus ditangani secara serius, tegas, dan penuh tanggung jawab.
Menurut Erick, sepak bola bukan sekadar soal menang dan kalah di atas lapangan. Lebih dari itu, olahraga ini harus menjadi ruang pembentukan karakter pemain sejak usia dini.
“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya nilai-nilai dasar dalam pembinaan pemain muda. Erick ingin memastikan generasi pesepak bola Indonesia tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga matang secara mental dan sikap.
Karena itu, ia meminta operator kompetisi, yakni I-League, untuk mengambil peran lebih aktif. Tidak hanya mengelola pertandingan, tetapi juga menjaga atmosfer kompetisi tetap sehat dan edukatif.
Selain itu, klub-klub peserta di Liga 1, Liga 2, hingga EPA diminta terus menanamkan sikap saling menghargai dan empati. Erick menilai, lingkungan kompetisi harus menjadi tempat aman bagi semua pemain untuk berkembang.
PSSI juga mendorong penguatan edukasi terkait anti-rasisme dan nilai-nilai sportivitas. Sosialisasi harus dilakukan secara konsisten di seluruh level, agar pesan tersebut benar-benar tertanam dalam diri pemain.
Tak hanya itu, pengawasan pertandingan juga menjadi sorotan penting. Erick menilai, kontrol yang ketat diperlukan agar kompetisi usia muda benar-benar menjadi ruang belajar yang positif dan mendidik.
“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik," lanjutnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022