
Hanno Behrens saat memperkuat Persija Jakarta pada musim 2022/2023. (Dok. Persija)
JawaPos.com - Mantan bintang Persija Jakarta, Hanno Behrens, mengenang momen bersama The Jakmania ketika masih menjadi penggawa Macan Kemayoran. Ia menceritakan betapa gilanya kelompok suporter tersebut saat membentangkan tifo dan koreografi Blitzkrieg, aksi yang sebenarnya terlarang di Jerman.
Hanno Behrens adalah pemain Persija Jakarta pada musim 2022/2023. Dia kala itu didatangkan dari klub Jerman, Hansa Rostock. Gelandang asal Jerman itu langsung jadi bintang karena memiliki kualitas mumpuni dan bahkan motor serangan Macan Kemayoran. Behrens mampu tampil cukup baik dengan catatan lima gol dalam 18 laga.
Behrens pun mengaku terkesan dengan kiprahnya di Persija, meski hanya semusim. Dia bahkan sampai punya satu kenangan paling diingat dan tak terlupakan saat masih berseragam merah. Yakni ketika pertandingan Persija Jakarta vs Rans Nusantara dalam laga peluncuran tim di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, pada Sabtu, 16 Juli 2022. The Jakmania membuat Behrens tak bisa melupakannya.
Sebab, The Jakmania kala itu menyuguhkan koreo bertuliskan Blitzkrieg. Di Jerman, Blitzkrieg adalah taktik perang yang berarti 'perang kilat' atau 'serangan kilat', yang dirancang untuk meraih kemenangan cepat melalui serangan yang terfokus dan terkoordinasi dengan menggunakan tank, infanteri bermotor, dan dukungan udara.
Koreo itu membuat Hanno Behrens yang berasal dari Jerman terkejut. Dia menyebut aksi kreativitas itu sangat kontroversial dan dilarang jika dilakukan di negaranya.
“Mereka punya spanduk, saya bahkan tidak tahu apakah ini diperbolehkan. Ada bendera Jerman dengan tank di atasnya, dan seekor macan sebagai lambang klub. Lalu ada tulisan seperti Blitzkrieg,” kata Hanno Behrens, dipetik dari KronnectTV pada Jumat (5/12).
Rasa kaget itu dibagikan oleh Behrens kepada pelatihnya yang juga berasal dari Jerman. Dia adalah Thomas Doll, sehingga keduanya berujung kebingungan dengan koreo tersebut.
“Kalian tahu, kawan, ini berlebihan. Jadi saya pergi berbicara kepada Thomas Doll, dan dia bilang kita tidak bisa menayangkan ini di Jerman," katanya.
"Lalu kami mencari tahu di Google, ternyata Blitzkrieg adalah taktik tempur Jerman dari Perang Dunia II. Lalu ada poster dengan tank, dan saya melihat ke sana,” sambung dia.
Pada akhirnya Hanno Behrens mengaku cuma bisa menggelengkan kepala bersama Thomas Doll. Tapi mereka kemudian coba memahami maksud dan tujuan suporter.
“Kami berdua menggelengkan kepala, berdiri di sana, dan berpikir, ‘Tidak, kalian tidak bisa menayangkan ini di Jerman.’,” terang dia.
"Tapi akhirnya kami menertawakan juga, karena mereka benar-benar serius dan sepertinya tidak tahu sejarah Jerman. Mungkin mereka pikir itu seperti semangat atau ‘Ayo!’, dan kami hanya bisa menggelengkan kepala,” tutup Hanno Behrens.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
