Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Agustus 2025 | 22.04 WIB

Persija Jakarta : Dari Masa Awal Perlawanan Kolonial, Hubungan dengan The Jak Mania sampai Musim Kejayaan di Sepak Bola Indonesia

Skuad Persija Jakarta di Era VIJ. (X @persija_jkt) - Image

Skuad Persija Jakarta di Era VIJ. (X @persija_jkt)

JawaPos.com-Pada 1928, berdiri Voetbalbond Indonesische Jacarta, awal nama Persija Jakarta. Tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari semangat perlawanan dan sebagai simbol penolakan terhadap dominasi klub sepak bola kolonial.

Para Pendiri VIJ, terdapat nama-nama besar, seperti Mohammad Husni Thamrin, seorang pahlawan nasional; dan Habib Ali Kitang, seorang ulama Betawi yang kini diabadikan dalam sejarah nasional.

Semangat nasionalisme dan spiritualitas dalam sebuah gerakan sepakbola untuk melawan penjajahan. Stadion pertama mereka bukan stadion megah, melainkan lapangan sederhana yang menjadi saksi lahirnya semangat perlawanan Jakarta.

Setelah Indonesia merdeka, VIJ secara resmi mengubah namanya menjadi Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta). Perubahan ini menandai transisi dari klub perlawanan kolonial menjadi klub kebanggaan ibu kota dan mewakili persatuan keberagaman masyarakat Jakarta.

Bagi warga Betawi, Persija lebih dari sekadar klub sepak bola melainkan identitas, kehormatan dan warisan mengakar dalam budaya Jakarta. Dilansir dari kanal YouTube Kisah Kasih Sepakbola, pada kamis (21/8), Macan Tutul menjadi simbol perlawanan terhadap modernisasi kota karena melunturkan budaya lokal.

Berjalan waktu 19 Desember 1997 lahir Jakmania, komunitas suporter fanatik Persija. Atas inisiatif manajer Persija Diza Rasyid Ali, bertujuan menyatukan semua elemen suporter Jakarta menjadi satu barisan.

Jakmania terdiri dari berbagai latar belakang, dari gang kecil hingga apartemen mewah, disatukan atas dasar kecintaan mereka pada Persija. Jakmania juga dikenal karena gerakan sosial.

The Jak aktif dalam kegiatan kemanusiaan, seperti menggalang donasi saat bencana dan mendirikan tenda logistik saat pandemi, membuktikan bahwa mendukung Persija juga berarti menjadi manusia lebih baik.

Musim 2018 menjadi tahun tak terlupakan bagi Persija dan para pendukungnya. Di bawah kepemimpinan pengusaha Gede Widiade dan strategi M. Rafil Perdana, Persija kembali diperhitungkan.

Di bawah arahan pelatih Stefano Teco Cugurra, tim ini bermain dengan taktik sederhana namun mematikan. Dukungan tanpa henti dari Jakmania menjadi faktor penting dan tak terpisahkan dari kesuksesannya.

Persija berhasil mengalahkan Mitra Kukar di Stadion Gelora Bung Karno pada 7 Desember 2018, mengakhiri penantian 17 tahun untuk meraih gelar juara Liga Indonesia.

2018 merupakan tahun kebahagiaan bagi The Jakmania sebab tidak hanya membawa pulang tiga trofi, tetapi mengembalikan harapan dan membuktikan bahwa Macan Kemayoran tidak lagi tidur di kandang.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore