
Shin Sang-gyu kini resmi jadi pelatih fisik Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Nama Shin Sang-gyu mungkin belum begitu dikenal luas oleh publik sepak bola Indonesia. Namun pria asal Korea Selatan ini pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan heroik timnas Korea di Olimpiade Rio 2016.
Saat itu, Shin Sang-gyu bertugas sebagai pelatih fisik timnas U-23 Korea Selatan yang berlaga di Olimpiade. Ia bahu membahu bersama pelatih senior asal Brasil, Luis Flavio, untuk membentuk fondasi fisik para pemain muda Negeri Ginseng.
Pemandangan yang kerap terlihat di lapangan latihan di Salvador, Brasil, adalah Shin dan Flavio mempersiapkan perlengkapan tim sebelum latihan dimulai. Keduanya datang lebih awal dari pemain dan memastikan sesi latihan berjalan maksimal. Meski terpaut usia lebih dari tiga dekade, kerja sama mereka harmonis dan saling melengkapi.
Shin Sang-gyu kala itu baru berusia 32 tahun, sementara Flavio telah menapaki usia 67 tahun dengan pengalaman lebih dari 40 tahun sebagai pelatih fisik. Shin merupakan lulusan studi olahraga di Inggris dan telah menunjukkan kualitasnya saat membawa Korea Selatan meraih emas di Asian Games 2014 di Incheon. Ia tak hanya piawai menjaga kondisi fisik pemain, tapi juga menjadi jembatan komunikasi antara pemain dan staf pelatih.
Menjelang Olimpiade Rio, federasi Korea merekrut Flavio untuk mendampingi Shin, mengingat pengalamannya luas dan pemahamannya tentang kondisi iklim Brasil. Flavio pernah melatih di klub-klub besar Brasil seperti Santos dan São Paulo sebelum berkarier di Jepang dan kemudian Korea. Duet Shin dan Flavio terbukti efektif dalam membentuk sistem latihan fisik yang terstruktur dan adaptif dengan kondisi lokal.
Berbeda dengan kegagalan Korea di Piala Dunia 2014 Brasil, di Olimpiade 2016 mereka tampil dengan kondisi fisik yang impresif.
Shin Sang-gyu berperan besar dalam penyusunan data fisik pemain sejak Asian Games 2014, menjadi acuan dalam membentuk program latihan. Sementara Flavio menyempurnakan pendekatan tersebut dengan menyesuaikan kondisi lingkungan dan kebutuhan pemain secara individual.
Salah satu bentuk sinergi mereka terlihat saat menangani pemain bintang Son Heung-min yang baru bergabung menjelang laga perdana. Berkat program yang disusun cepat dan tepat, Son bisa tampil lebih awal dari rencana dan langsung memberikan kontribusi penting.
“Flavio seperti kakek saya sendiri,” ujar Son Heung-min saat itu, terkesan dengan kedisiplinan dan semangat pelatih asal Brasil tersebut.
Sementara Shin menjadi figur 'kakak laki-laki' bagi para pemain muda yang butuh pendekatan lebih personal. Peran pelatih fisik memang kerap tak terlihat, tapi sangat menentukan performa tim. Shin tahu betul, tugasnya adalah memastikan para pemain tetap prima sepanjang turnamen yang berlangsung intens.
Setelah setiap latihan dan pertandingan, Shin dengan telaten membagikan suplemen dan memantau pemulihan otot pemain satu per satu. Ia menyebut tugasnya sebagai “menjaga agar kekuatan otot tidak hilang” setelah aktivitas berat.
Flavio, di sisi lain, fokus pada pemain yang belum mencapai performa fisik maksimal, dan menyusun program pemulihan cepat. Keduanya membagi tugas dengan rapi dan saling percaya tanpa tumpang tindih.
Bersama, mereka menciptakan harmoni kerja yang membuat tim Korea tampil solid secara fisik dan siap menghadapi pertandingan bertempo tinggi. Meskipun pelatih fisik sering disebut “bayangan” dalam dunia sepak bola, Shin dan Flavio menunjukkan bayangan ini punya peran krusial dalam setiap kemenangan.
Kini di usianya yang menginjak 41 tahun, nama Shin Sang-gyu kembali mencuat, namun kali ini di Indonesia. Ia resmi ditunjuk sebagai asisten pelatih Persebaya Surabaya untuk musim Liga 1 Indonesia 2025/2026 mendampingi pelatih kepala Eduardo Perez.
Persebaya mengumumkan jajaran pelatih barunya pada 3 Juni 2025, bersamaan dengan susunan pemain untuk musim depan. Shin akan berperan penting dalam membentuk fisik para pemain Green Force agar kompetitif di level nasional maupun regional. Kedatangan Shin mempertegas keseriusan Persebaya Surabaya dalam menyusun skuad yang tangguh secara fisik dan mental. Ia tak hanya akan menjadi pelatih, tapi juga figur profesional yang bisa mengangkat standar kerja tim secara keseluruhan.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
