Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 November 2024 | 18.24 WIB

Fakhri Husaini dan Ponaryo Astaman, Idola Muhammad Hidayat yang Jadi Pemacu Semangat di Persebaya Surabaya

Muhammad Hidayat punya dua idola legenda sepak bola nasional yang bikin dirinya terus berjuang bersama Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)

JawaPos.com Setiap pemain sepak bola pasti memiliki sosok panutan yang menjadi inspirasi dalam karier mereka. Bagi gelandang tangguh Persebaya Surabaya, Muhammad Hidayat, dua nama yang selalu menginspirasi dirinya adalah Fakhri Husaini dan Ponaryo Astaman.

Fakhri Husaini, mantan pelatih Timnas Indonesia U-16, ternyata sudah menjadi idola Dayat (sapaan akrab Muhammad Hidayat) sejak kecil. Tidak hanya mengidolakan dari jauh, Dayat bahkan pernah merasakan langsung sentuhan tangan dingin Fakhri saat menimba ilmu di Sekolah Sepak Bola (SSB) Mulawarman.

"Saya termasuk mengidolakan coach Fakhri Husaini, sangat mengidolakan prestasi beliau. Apalagi saya pernah dilatih beliau saat di SSB," kata Dayat mengenang masa-masa awal kariernya dikutip dari laman resmi klub.

Dari SSB Mulawarman itulah, perjalanan Dayat menuju karier profesional dimulai hingga kini menjadi bagian penting dari skuad Persebaya Surabaya.

“Saya dulu mengawali masuk dunia sepak boladi SSB Mulawarman yang dilatih langsung oleh coach Fakhri. Dari sana awal perjalanan saya memasuki dunia sepak bola, hingga akhirnya menjadi bagian Persebaya,” imbuhnya.

Fakhri Husaini dikenal sebagai pelatih yang sukses membawa Timnas U-16 menjuarai Piala AFF. Prestasi ini semakin membuat Dayat mengagumi sang pelatih, terutama karena Fakhri memiliki metode pelatihan yang membangun mental dan teknik pemain muda.

Dayat mengakui pengalaman dilatih oleh Fakhri sangat membantunya dalam perjalanan karier. Nilai-nilai disiplin dan kerja keras yang ditanamkan oleh sang pelatih tetap menjadi prinsip yang ia pegang hingga saat ini di Persebaya Surabaya.

Sementara itu, Ponaryo Astaman adalah idola lainnya yang memberikan pengaruh besar dalam gaya bermain Dayat di lapangan. Sebagai sesama gelandang bertahan, Ponaryo menjadi role model yang mengajarkan banyak hal kepada Dayat, baik secara langsung maupun melalui permainannya di masa lalu.

"Kalau bang Ponaryo karena posisi saya kebetulan sama dengan bang Ponaryo. Menurut saya dia contoh bagus gelandang lokal," ungkap Dayat.

Ponaryo dikenal sebagai gelandang bertahan dengan kemampuan membaca permainan yang luar biasa, serta visi yang tajam di lapangan. Dayat mengaku sering mempelajari cara bermain Ponaryo, terutama dalam hal distribusi bola dan menjaga keseimbangan tim.

“Saya sering belajar cara bermain bang Ponaryo di posisinya sebagai gelandang bertahan, saya juga beberapa kali mengikuti cara bermainnya," sambungnya.

Tidak hanya itu, kesuksesan Ponaryo di klub-klub besar dan pencapaiannya sebagai kapten Timnas Indonesia menjadi motivasi tersendiri bagi Dayat. Ia bercita-cita untuk mengikuti jejak Ponaryo, baik dalam hal pencapaian individu maupun kontribusi kepada tim.

Sebagai gelandang bertahan, Dayat merasa Ponaryo memberikan inspirasi untuk selalu tampil konsisten dan disiplin. Hal ini terbukti dalam perannya sebagai "karyawan tetap" Persebaya Surabaya, di mana ia selalu menjadi pilihan utama dalam menjaga stabilitas lini tengah.

Fakhri Husaini dan Ponaryo Astaman memang memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter Dayat, baik sebagai pemain maupun individu. Kombinasi nilai-nilai disiplin dari Fakhri dan teknik permainan dari Ponaryo membuat Dayat terus berkembang sebagai salah satu gelandang terbaik di Indonesia.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore